Selasa, 05 Juli 2011

makalah Seksualitas Pada Lansia

KATA PENGANTAR
Alhamdullillahhirabil a’lamin, segala puji Penulis panjatkan kehadirat Allah SWT atas segalah rahmat dan hidayahnya tercurahkan kepada kita yang tak terhingga ini, shalawat serta salam kita panjatkan kepada junjungan Nabi besar kita Muhammad SAW dan keluarganya, sahabatnya, beserta pengikutnya sampai akhir zaman amin ya rabbal alamin.
Karena anugerah dan bimbingan-Nya Penulis dapat menyelesaikan makalah ini yang merupakan salah satu tugas dari Mata Kuliah Pendidikan Agama Islam. Penulis menyadari bahwa dalam penulisan makalah ini banyak sekali terdapat kekurangan. Oleh karena itu Penulis sangat mengharapkan kritik dan saran yang sifatnya membangun demi kesempurnaan makalah ini.

Sigli, Juni 2011
Penyusun




BAB I
PENDAHULUAN

1.1 Latar Belakang
Masalah kesehatan jiwa lansia termasuk juga dalam masalah kesehatan yang dibahas pada pasien-pasien Geriatri dan Psikogeriatri yang merupakan bagian dari Gerontologi, yaitu ilmu yang mempelajari segala aspek dan masalah lansia, meliputi aspek fisiologis, psikologis, sosial, kultural, ekonomi dan lain-lain (Depkes.RI, 1992:6)Proses menua (aging) adalah proses alami yang disertai adanya penurunan kondisi fisik, psikologis maupun sosial yang saling berinteraksi satu sama lain. Keadaan itu cenderung berpotensi menimbulkan masalah kesehatan secara umum maupun kesehatan jiwa secara khusus pada lansia.
Geriatri adalah cabang ilmu kedokteran yang mempelajari masalah kesehatan pada lansia yang menyangkut aspek promotof, preventif, kuratif dan rehabilitatif serta psikososial yang menyertai kehidupan lansia. Sementara Psikogeriatri adalah cabang ilmu kedokteran jiwa yang mempelajari masalah kesehatan jiwa pada lansia yang menyangkut aspek promotof, preventif, kuratif dan rehabilitatif serta psikososial yang menyertai kehidupan lansia.







1.2 Rumusan Masalah
Berdasarkan Latar Belakang yang telah penulis uraikan diatas tadi, maka yang akan penulis jadikan pokok permasalahan dari penulisan makalah ini yaitu sebagai berikut:
1. Disfungsi Seksual Pada Usia Lanjut
2. Aktivitas Seksual Pada Lansia
3. Perubahan Fisiologik Akibat Proses Menua
4. Hambatan Seksual Pada Usia Lanjut
5. Impotensi Pada Usia Lanjut
6. Penatalaksanaan Masalah Seksual Pada Usia Lanjut

1.3 Tujuan Penulisan
Tujuan Umum makalah ini adalah untuk mengetahui tingkat pengetahuan lansia tentang seksualitas.
Tujuan khusus :
 Mahasiswa dapat mengetahui definisi lansia
 Mahasiswa dapat mengetahui perubahan- perubahan seksualitas pada lansia
 Mahasiswa dapat mengetahui aspek seksualitas pada lansia
 Mahasiswa dapat mengetahui aktivitas seksualitas pada lansia
 Mahasiswa dapat mengetahui tentang pengaruh umum penuaan terhadap seksualitas lansia



BAB II
PEMBAHASAN

2.1 Disfungsi Seksual Pada Usia Lanjut
Dengan semakin baiknya keadaan kesehatan masyarakat, maka penduduk kelompok usia lanjut semakin banyak di masyarakat. Mereka memerlukan perhatian khusus dalam mengatasi masalah yang mereka hadapi pada usia lanjut. Mereka memerlukan penanganan khusus untuk meningkatkan kualitas hidup mereka sebagai manusia.
Salah satu masalah yang dialami oleh banyak orang pada usia lanjut ialah masalah seksual. Disfungsi seksual merupakan masalah yang umum dialami oleh kelompok usia lanjut, baik pria maupun wanita. Banyak kelompkk usia lanjut yang merasa terganggu dengan disfungsi seksual yang dialaminya.
Di pihak lain, mereka mengalami hambatan psikis untuk berupaya mengatasi masalah itu. Hambatan psikis antara lain muncul karena sikap masyarakat yang menganggap tidak layak lagi pada usia lanjut mempermasalahkan fungsi seksual. Padahal sebagai manusia seksual, walaupun berusia lanjut, wajar saja mereka mempermasalahkan keluhan seksual yang meraka rasakan mengganggu. Masalah seksual memang dapat dialami oleh siapa saja dari kelompok usia manapun, dan mereka sangat memerlukan penganganan.
Dalam buku Seks yang Membahagiakan, Prof Dr dr Wimpie Pangkahila SpAnd FAACS menjealaskan, masalah seksual pada usia lanjut disebabkan oleh faktor fisik dan psikis yang bergabung menjadi satu. Faktor fisik berupa kemunduran fisik karena usia yang terjadi pada semua bagian tubuh, khususnya yang berkaitan dengan fungsi hormon seks, pembuluh darah, dan saraf. Faktor fisik yang menghambat fungsi seksual kerap muncul pada usia lanjut, seperti perasaan jemu dengan situasi sehari-hari, khususnya dalam hubungan dengan pasangan, perasaan kehilangan kemampuan seksual dan daya tarik, perasaan kesepian, dan perasaan takut dianggap tidak wajar bila masih aktif melakukan hubungan seksual.
“Perubahan itu sangat menghambat atau menurunkan fungsi seksual, apalagi kalau terdapat masalah lain, seperti penyakit yang kerap muncul pada usia lanjut dan terganggungnya komunikasi dengan pasangan,” tambah Wimpie yang saat ini menjadi Ketua Pusat Studi Andrologi dan Seksologi Fakultas Kedokteran, Universitas Udayana, Bali.
Pada wanita, lanjut Wimpie, usia lanjut pada umumnya diidentikkan dengan terjadinya menopause. Pada masa ini, masalah seksual sering terjadi yang berhubungan dengan menurunnya hormon estrogen dan progesteron.
Pada pria lanjut, tidak ada suatu proses yang berhenti seperti pada wanita yang mengalami menoupouse. Tetapi, pada pria usia lanjut juga mengalami penurunkan fungsi seksual yang acapkali menibulkan masalah seksual. “Istilah andopause kerap kali digunakan untuk menunjukkan suatu masa pada pria usia lanjut yang mengalami penurunan fungsi seksual dan fungsi organ tubuh pada umumnya,” jelasnya.
Tetapi lebih jauh, lanjutnya, penurunan hormon seks, khususnya testosterone, baik pada pria maupun wanita, tidak semata-mata hanya menumbulkan disfungsi seksual. Dalam kaitannya dengan kualitas hidup, menurunnya hormon testosterone, seperti juga hormon yang lain, dapat menurunkan kualitas hidup. Selanjutnya, kualitas gidup yang menurun dapat menimbulkan akibat buruk dalam berbagai aspek kehidupan

2.2 Aktivitas Seksual Pada Lansia
Hasil penelitian menyebutkan bahwa lebih dari 90 persen gangguan seksual di sebabkan oleh faktor psikologis (psikoseksual).walaupun pengaruh psikologi cukup besar,ternyata pengaryh faktor fisik semakin tinggi pada lansia.Semakin tua usia seseorang,penyebab fisik dapat lebih besar daripada penyebab psikologis.
 Pengaruh Umum Penuaaan fungsi Seksual Pria
Secara umum,pengaruh penuaan fungsi seksual pada pria meluputi hal hal berikut:
1. fungsi seksual pada lansia yang sehat.
2. Ereksi penis memerlukan waktu lebih lama dan mungkin tidak sekeras yang sebelumnya.perangsangan langsung pada penis sering kali di perlukan.
3. Ukuran testis tidak bertambah,elevasinya lambat,dan cenderung turun.
4. Kelenjar Terjadi penurunan sirkulasi tertosteron,tetapi jarang menyebabkan gangguan penis tampak menurun
5. Kontrol ejakulasi meningkat.ejakulasi mungkin terjadi setiap 3 episode seksual.penurunan fungsi ejakulasi sulit untuk di sembuhkan.
6. Dorongan seksual jarang terjadi pada pria di atas 50 th.
7. Tingkat organsme menurun atau hilang.
8. Kekuatan ejakulasi menurun sehingga organisme kurang semangat.
9. Ejakulasi selama organisme terdiri dari satu atau dua kontraksi pengeluaran,sedangkan pada orang yang lebih muda dapat terjadi empat kontraksi besar dan di ikuti kontraksi kecil sampai beberapa detik.
10. Ejakulame si di keluarkan tanpa kekuatan penuh dan mengandung sedikit sel sperma.Meskipun tingkat kesuburan menurun,tidak berarti lansia menjadi mandul.
11. Penurunan tonus otot menyebabkan spasme pada organ genital eksterna yang tidak biasa.frekuensi kontraksi sfingter ani selama organsme menurun.
12. Setelah ejakulasi,penurunan ereksi dan testis lebih cepat terjadi.
13. Kemampuan ereksi setelah ejakulasi semakin panjang,pada umumnya dua belas sampai empat puluh delapan jam setelah ejakulasi.Ini berbeda pada orang muda yang hanya membutuhkan beberapa menit saja.
14. Pada klimaksnya,hubungan seksual masih memberikan kepuasan yang kuat.

 Pengaruh Umum Penuaan Fungsi Seksual Wanita.
Secara umum pengaruh penuaan fungsi seksual wanita sering dihubungkan dengan penurunan hormon,seperti berikut ini:
1. Lubrikasi vagina memerlukan waktu lebih lama.
2. Pengembanagan dinding vagina berkurang pada panjang dan lebarnya.
3. Dinding vagina menjadi lebih tipis dan mudah teriritasi.
4. Selama hubungan seksual dapat terjadi iritasi pada kandung kemih dan uretra.
5. Sekresi vagina berkurang keasamannya,meningkatkan kemungkinan terjadinya infeksi.
6. Penurunan elevasi uretra
7. Atrofi labia mayora dan ukuran klitoris menurun.
8. Fase organsme lebih pendek.
9. Fase resolusi muncul lebih cepat
10. Kemampuan multipel organsme masih baik.
Aktivitas seksual mungkin terbatas karna ketidakmampuan spesifik,terapi dorongan seksual,ekspresi cinta,dan perhatian tidak seksual diasumsikan dengan sakit,lebih baik perhatian difokuskan pada sesuatu yang mungkin dilakukan.Pengaruh psikososial dari ketidakmampuan pada umumnya mempunyai pengaruh yang lebih negatif pada fungsi seksual daripada gangguan fisik akibat ketidakmampuan itu sendiri.Mengambangkan kepercayaaan diri dan membentuk ekspresi seksual yang baru dapat banayak membantu pada lansia yang mengalami ketidakmampuan seksual.
Artritis dengan deformitas pada sendi,memungkinkan terjadinya kontraktur dan nyeri,kangker dengan nyeri dan komplikasi operasi,kemoterapi dan radiasi, gangguan neuromuskular yang menyebabkan lansia merasa kurang menarik dan mempunyai daya tarik seksual.Perasaaan negatif ini menghambat pengembangan emosi dan fisik.beberapa penyakit.dihubungkan dengan penurunan daya tahan atau nyeri dapat menyebabkan ketakutan dan menghalangi dorongan aktifitas seksual.Ketakutan dan persepsi negatif ini harus diatasi sehingga lansia dapat menikmati kehidupan/hubungan seksualnya.
Pada beberapa lansia,kunci untuk mempertahankan kemampuan seksual secara penuh adalah kemampuan untuk mengubah pola lama ke pola baru dengan baik,Hubungan seksual tradisiaonal,artinya posisi laki-laki di atas mungkin sangat memuaskan orang pada saaat masih muda.Akan tetapi,penelitian terakhir menunujukkan bahwa variasi posisi ternyata lebih memuaskan atau minimal dapat dinikmati.

 Sikap dan Posisi Hubungan Seksual
Sikap dan posisi hubungan seksual yang dapat meningakatkan partisipasi seksual pada lansia adalah sebagai berikut:
1. Memahami perubahan normal yang berhubungan dengan lansia.
2. Meningkatkan komunikasi pada masalah non-seksual sama baiknya dengan komunikasi seksual.
3. Menikmati setiap kejadian.Jangan terburu-buru,kurangi ketakutan.
4. Menggunakan posisi seperti miring atau duduk yang tidak terlalu banyak menumpu dalam kontraksi otot lengan secara Isometrik.
5. Gunakan posisi yang tidak menekan sendi,tengkurap yang menimbulkan nyeri atau strain otot.
6. Gunakan latihan kegel untuk meningkatkan tonus otot dan kontraksi vagina selama aktifitS seksual.Pria dan wanita dapat memperoleh keuntungan dari latihan kegel karna ini dapat meningkatkan kekuatan kontraksi otot sfingter uretra dan sfingter ani.Ltihan kegel harus dilakukan beberapa kali sehari dengan mengontraksikan otot pubokoksigeus dua puluh sampai tiga puluh kali.
7. Lakukan stimulasi oral-genital.
8. Stimulasi oragan genital secara manual.
9. Gunakan vibrator sendiri atau dengan pasangan.
10. Lakukan masturbasi sendiri atau dengan pasanagan.
11. Konsultasi dengan dokter apabila ada masalah impotensi.
12. Gunakan teknik stuffing,yaitu masukkan penis kevagina sebelum ereksi penuh tercapai.Penis biasanya akan menjadi lebih keras/tegang sebagai hasil stimulasi di dalam vagina.
13. Coba nikmati sentuhan dan massage.Gunakan krim atau minyak agar lebih menyenangkan.Saling memberikan perhatian dalam hubungan seksual dapat memberikan kenikmatan pada lansia pria maupun wanita dan dapat mengurangi ketakutan pada pria.
14. Gunakan pelumas seperti K-Jelly selama hubungan seksual atau masturbasi.
15. Lakukan pelukan,ciuman,usapan,rayuan dan canda.
16. Lakukan gaya hidup yang sehat,yaitu cukup istirahat,olahraga secukupnya,jangan merokok,setta jangan makan atau minum yang berlebihan.
17. Ciptakan suasanan yg romantis.
18. Perhatikan kebersihan diri dan penampilan diri agar pasangan tertarik.

2.3 Perubahan Fisiologik Akibat Proser Menua
Pada dasarnya perubahan fisiologik yang terjadi pada aktifitas seksual pada usia lanjut biasanya berlangsung secara bertahap dan menunjukan status dasar dari aspek vaskuler ,hormonal dan neurilogiknya.(Alexander and Allison 1989). Kaplan membagi iklus tanggapan seksual dalam beberapa tahap .
Tabel berikut akan menunjukkan perubahan fisiologik dari aktifitas seksual yang diakibatkan oleh proses menua ditinjau dari pembagian tahapan seksual menurut Kaplan.
Fase tanggapan seksual Pada wanita lansia Pada pria lansia
Fase desire
Fase orousal (penggairahan)=fase vaskuler
Fase argasmik (fase muskular)
Fase pasca orgasmik Terutama dipengaruhi oleh penyakit baik dirinya atau pasangan masalah hubungan antar keduanya ,harapan cultural dan hal-hal tentang harga diri .desire/hasrat padfa lansia wanita mungkin munurun dengan makin lanjutnya usia ,teta[I hal ini bisa bervariasi.
Pembesaran payudara berkurang ,semburat panas dikulit menurun ;elastisitas dinding vagina menurun ,lubrikasi vagina menurun .iritasi uretra dan kandung kemih miningkat ,otot-otot yang menegang pada fase ini menurun
Tanggapan orgasmic mungkin kurang intens disertai lebih sedikit kontraksi ;kemampuan untuk mendapatkan orgasme multiple berkurang dengan makin lanjut usia
Mungkin terdapat periode refrakter dimana pembangkitan gairah secara segera lebih sukar Interval untuk meningkatkan hasrat melakukan kontak seksual meningkat .hasrat dipengaruhi oleh penyakit,kecemasan akan melakukan seks dan masalah hubungan antara pasangan .mulai usia 55 tahun testosterone menurun bertahap yang akan mempengarihi libido.
Membutuhkan waktu lebih lama untuk ereksi ,ereksi kurang begitu kuat .testosteron menurun ,produksi sperma menurun bertahap mulai dari usia 40 tahun ‘elevasi testis ke perineum lebih lambat dan lebih sedikit ,penguasaan atas ejakulasi biasanya mulai sedikit
Kemampuan mengontrol ejakulasi membaik,kekuatan kontraksi otot dirasakan berkurang jumlah kontraksi /orgasme menurun ,volume ejakulat menirun
Periode refrakter memanjang secara fisiologik ,dimana ereksi dan orgasme berukutnya lebih sukar terjadi .




2.4 Hambatan aktivitas seksual pada usia lanjut.
Pada usia lanjut terdapat berbagai hambatan untik melakukan aktivitas seksual yang dapat dibagi menjadi hambatan eksternal yang dating dari lingkungan dan hambatan internal yang terutama berasal dari subyek lansianya sendiri
Hambatan eksternal biasanya berupa pandangan social ,yang mengaggap bahwa aktivitas sosial tidak layak . Pada lansia yang yng berada diinstitusi ,misalnya di panti wreda hambatan tewrutama adalah karena peraturan dan ketiadaan privasi di institusi tersebut. Hambatan internal psikologik seringkali sulit dipisahkan secara jelas degan hambatan eksternal .
Obat-obatan yang sering diberikan pada penderita usia lanjut dengan patologi multipel juga sering menyebabkan berbagai gangguan fungsi seksual pada usia lanjut ,seperti dapat dilihat dari pada tabel berikut ini
Golongan obat contoh Pengaruh pada fase Anjuran obat pengganti
Anti hipertensi:diuretika
Anti hipertensi;obat berdaya sentral
Anti hipertensi penyekat b
Anti hipertensi –penghambat AC
Obat anti psikotik
Obat anti angsietas
Anti kolinergik
Estrogen
Progestin
Antaginis reseptor h-2
narkotik
sedaktif
anti depresan trisiklik Gol;tiasid
Klonidin metil-dopa
Propanolol
Captropil
Torasin tiotiksen haloperidol
Diazepam
diasepam
Atropine,hidroksisin
premarin
provera
Simetidin
Kodein ;Demerol
Alcohol balbiturat
Imipramin amitriptilin Fase pembangkitan(arousal)
Fase pembangkitan (arousal)
Fase hasrat(desire)
Fase penggairahan (arousal)
Fase desire
Fase desire
Fase desire
Fase pembangkitan
Fase desire
Fase desire
Fase desire
Fase desire Pertimbangan penghambat kanal ca
Pertimbangkan buspiron
Lebih ditekankan pada pemuasan
Estrgon oral merupakan pilihan padayang tak bisa per oral
Bila adaefek samping
berikan secara siklik
Pertimbanganaltern
waktu pemberian sangat pentingf dari bloker h-2
kenali obat dan obati
pertimbangan prozac ziloft

2.5 Impotensia pada usia lanjut.
Secara umum impotensia merupakan istilah yang berarti ”tidak mampu (melakukan aktivitas seksual) dan dapat dibedakan sebagai impotensia coendi (ketidak mampuan untik melakukan hubungan seksual),impotensia erigendi(tidak mampu berereksi )dan impotensia generandi (tak mampu menghasilkan keturunan.
Disfungsi ereksi (DE) adalah ketidakmampuan secara konsisten untuk mencapai dan mempertahankan ereksi sedemikian ingá mencapai aktivitas seksual yang memuaskan .
Secara garis besar Dedapat dibagi menjadi 2 bagian besar sebagai berikut .
1. DE organik sebagai akibat gangguan endokrin ,neurogenil,vaskuler. (aterosklerosis atau fibrosis) Deendokrinologik biasanya disebabkan oleh gangguan testikuler baik primer (sindroma klinefelter maupun sekunder) .penyakit yang meningkat hormon prolaktin dan tiroksin dapat menyebabkan DE.
2. DE vaskuler terjadi pada penyakit leriche .yaitu suatu obstruksi dipangkal bifurkasio a.iliaka pada daerah abdominalis yang akan menyababkan kladikasio dab DE .
3. DE psikologik atau psikogenik .DE jenis ini yang secare opotensial reversibel biasanya diakibatkan oleh kecemasan (ansietas) ,depresi rasa bersalah (guilty feeling ) ,masa perkawinan atau juga akibat dari rasa takut akan gagal dalam hubungan seksual .


2.6 Penatalaksanaan Masalah Seksual Pada Usia Lanjut
Penatalaksanaan penderita lansia dengan masalah seksual pada dasarnya tidak berbeda dengan apa bila penderita tersebut berusia lebih muda pemeriksaan sebaiknya dilakukan dihadapan kehadiran pasangangannya. Anameses harus rinci,mengikuti awitan, jenis maupun intensitas gangguan yang dirasakan juga anamisis tentang gangguan sistemik maupun organik yang dirasakan.penelaah tentang gangguan psikologi (kesepian,deprsei,duka cita,gangguan kongniktif harus pula dilakukan.
Tidak kala pentingnya anamisis tentang obat-obatan yang diminum,pemeriksaan fisik mengikuti seluruh organ dari kepala samapai keujung kaki.setatus lokalis organ seksual perlu mendapatkan perhatian khusus. Pemeriksaan tambahan yang dilakukan meliputi keadaan jantung, hati, ginjal dan paru-paru. Setatus indrogin dan metabolik meliputi keadaan gula dara, setaus gizi dan kalau diperlukan setatus hormonal tertentu (testoteron, teroit dan proplaktin pada pria dan ekstrogen dan progestrorol pada wanita ) apa bila penuaan mengenai disfunsi ereksi pda pria. Pemeriksaan kas juga meliputi antara lain dengan pemeriksaan snap gauge atau nacturnal penile tumescence testing (Hadi-Martono, 1996).
Terapi yang diberikan tentusaja tergantung dalam diaknosis penyakit/gangguan yang mendasari keluhan tersebut dan sebaiknya dilakukan oleh suatu tim multi disiplin. Pada keadaan dinfusi ereksi, terapi yang diperlukan berupa(Weg, 1986; Leslie, 1987; Hadi-Martono, 1996):


1. Terapi psikolgik
2. medika mentosa (hormonal atau injeksi intra korpureal dengan mengunakan papaverin atau altrostaldil)
3. pengobatan dengan alat vakum
4. pembedahan baik pembedahan vaskulen atau untuk pemasangan proteksis penis
Salah satu obat peroral yang baru-baru ini meningkat popularitasnya untuk pengobatan DE adalah sildenafil sitrat (VIAGRA) obat ini bekerja dengan jalan memblok pemecahan GMP siklik yang mempertahankan vasedilatasi kavernosa, hanya bisa diberikan apabila keadaan vaskuler penis masih intak. Yang perlu diperhatikan adalah bahwa interaksi obat ini dengan golongan nitrat dapa menyebabkan hipotensi bahkan syok (Vinik 1998).




BAB III
PENUTUP

3.1 Kesimpulan
Salah satu masalah yang dialami oleh banyak orang pada usia lanjut ialah masalah seksual. Disfungsi seksual merupakan masalah yang umum dialami oleh kelompok usia lanjut, baik pria maupun wanita. Banyak kelompkk usia lanjut yang merasa terganggu dengan disfungsi seksual yang dialaminya.
Pada wanita, lanjut Wimpie, usia lanjut pada umumnya diidentikkan dengan terjadinya menopause. Pada masa ini, masalah seksual sering terjadi yang berhubungan dengan menurunnya hormon estrogen dan progesteron.
Pada pria lanjut, tidak ada suatu proses yang berhenti seperti pada wanita yang mengalami menoupouse. Tetapi, pada pria usia lanjut juga mengalami penurunkan fungsi seksual yang acapkali menibulkan masalah seksual. “Istilah andopause kerap kali digunakan untuk menunjukkan suatu masa pada pria usia lanjut yang mengalami penurunan fungsi seksual dan fungsi organ tubuh pada umumnya,” jelasnya.

3.2 Saran
Agar mahasiswa mengetahui aspek- aspek seksualitas pada lansia.dan mahasiswa mampu membuat asuhan keperawtan pada lansia.Semoga makalah ini dapat bermanfaat bagi pembaca khususnya pada mahasiswa Stikes Piala sakti.



DAFTAR PUSTAKA

Adimulya, A. Respon seksual pria usia senja dan beberapa permasalahannya.naskah simposium hubungan suami istri pada usia lanjut, semarang 1986.
Hadi-Martono . Kegiatan seksual pada lanjut usia. Naskah simposium sek rotary Club Purwokerto, 1996.
http://curhat085737705728.wordpress.com/2011/05/17/disfungsi-seksual-pada-usia-lanjut/
http://kuliahbidan.wordpress.com/2008/07/17/masalah-seksual-lansia/
http://keperawatangerontik.blogspot.com/2010/11/aktivitas-seksual-pada-lansia.html
R. Buedhi Darmojo buku. Buku ajar Gerriatri ilmu kesehatn usia lanjut.fakultas kedokteran UI, Jakarta 1999.

Tidak ada komentar:

Poskan Komentar