Tampilkan postingan dengan label FKIP EKONOMI. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label FKIP EKONOMI. Tampilkan semua postingan

Makalah Ekonomi Pendidikan (Pendidikan Masa Depan)

PENDIDIKAN MASA DEPAN DI INDONESIA

BAB I
PENDAHULUAN
1. Latar Belakang
Pendidikan adalah sebuah usaha yang berjalan secara terus menurus untuk menjadikan manusia (masyarakat) mencapai taraf kemakmuran. Pendidikan di Indonesia dilihat dari segi mutunya masih sangat memprihatinkan. Baerkaca dari perkembangan teknologi dan informasi yang menunutut kemampun sumber daya manusia yang mumpuni, pendidikan sebagai sarana pengantar untuk penyeimbang antara sumber daya manusia dan kemajuan teknologi dan informasi sudah seharusnya memberikan pelayanan maupun kontribusi yang tinggi. 
makalah pendidikan masa depan di indonesia
makalah pendidikan masa depan
Antara sistem pendidikan di Indonesia dan pendidikan di negara-negara maju tidak bisa disamakan akan tetapi negara maju dijadikan sebagai penyemangat karena masing-masing negara mempunyai kultur yang berbeda. Pendidikan harus dibawa dalang rangka meng optimalkan kemampuan peserta didik untuk memiliki sifat kreatif, kritis dan tanggap terhadap permaslahan kehidupan. UNESCO sebagai lembaga yang mengurusi masalah pendidikan di bawah naungan PBB telah merumuskan empat pilar pendidikan dalam rangka
pelaksanaan pendidikan untuk masa sekarang dan masa depan, pilar tersebut adalah:
  1. learning to Know (belajar untuk mengetahui),
  2. learning to do (belajar untuk melakukan sesuatu) dalam hal ini kita dituntut untuk terampil dalam melakukan sesuatu, 
  3. learning to be (belajar untuk menjadi seseorang), dan 
  4. learning to live together (belajar untuk menjalani kehidupan bersama). 
  5. learn how to learn (belajar menggunakan metode yang tepat) dan yang terakhir learning troughout life (belajar sepanjang hayat).
2. Rumusan Masalah

  1. Bagaimana Pendidikan di Indonesia?
  2. Bagaimana Pendidikan masa depan?
3. Tujuan Penulisan Makalah
  1. Dapat mengetahui kondisi pendidikan di Indonesia
  2. Dapat mengetahui rencana pendidikan masa depan
BAB II
PENDIDIKAN MASA DEPAN DI INDONESIA

1. Pendidikan di Indonesia

Proses belajar tidak hanya terbatas pada pendidikan formal, namun Setiap warga negara berhak mendapat kesempatan meningkatkan pendidikan sepanjang hayat. Di Negara Indonesia pemerintah mewajibkan wajib belajar sembilan tahun yaitu pendidikan enam tahun pada pendidikan dasar dan tiga tahun pada pendidikan lanjutan tingkat pertama. Adapun tujuan secara umum pendidikan di indonesia adalah mencerdaskan kehidupan bangsa dan mengembangkan manusia Indonesia seutuhnya, yaitu manusia yang beriman dan bertakwa terhadap Tuhan Yang Maha Esa dan berbudi pekerti luhur, memiliki pengetahuan dan keterampilan, kesehatan jasmani dan rohani, kepribadian yang mantap, mandiri serta rasa tanggung jawab kemasyarakatan dan kebangsaanWajib belajar yang ini ditekankan oleh pemerintah dengan harapan mampu menghapus anggota masyarakat dari buta huruf dan meningkatkan kecerdasan bangsa. Namun pada keyataanya pemerintah belum menjamin 100% masyarakatnya dapat merasakan pendidikan wajib belajar meskipun pemerintah sudah menganggarkan biaya pendidikan dari APBN sebesar 20% untuk pelaksanaan wajib belajar.
Belum lagi masalah diatas dapat terselesaikan, seiring dengan perkembangan zaman yang ditandai dengan kemajuan dalam bidang teknologi dan informasi, pendidikan di indonesia dihadapkan pada problem rendahnya mutu pendidikan yang sudah ada. Lembaga pendidikan yang ada kurang mampu dalam membangkan kreatifitas dan intelektualitas para peserta didiknya, sehingga setiap tahunnya selalu adanya penambahan pengangguran dalam dunia kerja, hal ini terjadi karena lembaga pendidikan dengan dunia kerja berjalan sendiri-sendiri sehingga keilmuan yang diperoleh kurang sesuai dengan dunia kerja, misalpun ada dari beberapa yang sudah sesuai akan tetapi pembangunan jiwa kreatif masih sangat minim sehingga tatkala dihadapkan dengan realitas terjadi adanya kebingungan yang dahsyat.

2. Pendidikan Masa Depan

Pendidikan merupakan kebutuhan sepanjang hayat. Setiap masyarakat membutuhkan pendidikan, sampai kapanpun dan dimanapun ia berada. Pendidikan memiliki peranan yang sangat penting artinya, sebab tanpa pendidikan manusia akan sulit berkembang dan bahkan akan terbelakang yang berujung pada keterpurukan. Dengan demikian pendidikan harus betul-betul diarahkan untuk menghasilkan manusia yang berkualitas dan mampu bersaing, di samping memiliki budi pekerti yang luhur dan moral yang baik.
Prinsip penyelenggaraan pendidikan sebagai mana yang tercantum dalam UU No. 20 tahun 2003 bahwa pendidikan diselenggarakan secara demokratis dan berkeadilan serta tidak diskriminatif dengan menjunjung tinggi hak asasi manusia, nilai keagamaan, nilai kultural, dan kemajemukan bangsa. Pendidikan diselenggarakan dengan memberdayakan semua komponen masyarakat melalui peran serta dalam penyelenggaraan dan pengendalian mutu
layanan pendidikan. Dari prinsip diatas dapat disimpulkan bahwa dalam penyelenggaraan pendidikan harus memperhatikan nilai kulturan, nilai keagamaan dan semua kompenen masyarakat tanpa adanya diskriminatif.
Namun menurut pemakalah pendidikan yang perlu diterapkan di Indonesia selain mencangkup empat pilar yang canangkan UNESCO yaitu learning to know, learning todo, learning to be dan learning to live together, learn how to learn dan learning troughout life.
Penyelenggaraan pendidikan yang tercantum dalam Undang-undang Sistem Pendidikan Nasional harus lebih mementingkan aspek moral. Penekanan terhadap moral dipandang perlu karena dengan sikap kreatif dan profesional saja b angsa ini akan hancur, hal ini dapat dilihat pada keterpurukan moral para wakil rakyat yang korupsi sampai trilyunan rupiah. 
Untuk mewujudkan pendidikan diatas pemerintah melalui pihak terkait harus lebih tegas dalam menangani terhadap penyimpanganpenyimpangan yang ada, terutama terhadap pembiayaan pendidikan dan proses pendidikan baik mulai dari perencanaan, kegiatan pembelajaran, evaluasi dan tindak lanjutnya. Pemerintah juga berani menanggung biaya pendidikan minimal pendidikan wajib belajar dengan pemenuhan segala keperluan yang menunjang terhadap keberlangsungan proses pendidikan.
Dengan demikian, tuntutan pendidikan sekarang dan masa depan harus diarahkan pada peningkatan kualitas kemampuan intelektual dan profesional serta sikap, kepribadian dan moral manusia Indonesia pada umumnya, sehingga antara pendidikan dan dunia kerja terjadi adanya kesesuaian kebutuhan yuang diperlukan. Dengan kemampuan sikap profesional, kreatif diharapkan dapat mengurangi pengangguran yang setiap tahunnya meningkat, dengan memiliki sikap/moral yang tinggi mampu untuk hidup bersama dan tolong menolong, bukan saling menggunakn keprofesionalannya untuk membodohi yang lebih bodoh, dan tentunya apabila program diatas berjalan secara baik dan benar mutu pendidikan semakin terus membaik.
BAB III
PENUTUP
1. Kesimpulan
  1. Pendidikan berjalan sepang hayat masyarakat, dengan menekankan sikap kreatif, kritis, tanggap terhadap permasalahan lingkungan dan memiliki nilai moral yang tinggi. Selain itu pendidikan tidak terlepas dari kultur bangsa sebagai karakter, dan tentunya adanya kesesuaian antara tujuan pendidikan dan kebutuhan sumber daya manusia yang diperlukan di masyarakat.
  2. Pemerintah sebagai salah satu t onggak pelaksanaan pendidikan sudah menjadi kewajiban ikut berpartisipasi dalam pelaksanaan pelayanan pendidikan sebagaimana tercantum dalam UU Dasar 45 yaitu mencerdaskan kehidupan bangsa. 
  3. Pendidikan di Indonesia untuk masa depan selain mengedepankan aspek intelektualitas juga menekankan aspek kesadaran moral sebagai penyeimbang tatkala seorang peserta didik berinteraksi langsung baik dengan pendidik atau masyarakat umum.
2. Saran
Dengan adanyan makalah ini semoga dapat membantu pembca dalam memahami pendidikan masa depan.
REFERENSI
Mastuhu.  Menata Ulang Pemikiran Sistem Pendidikan Nasional Abad 21. Yogyakarta: Safiria Insania Press. 2003.
Undang-undang Republik Indonesia No. 20. Tahun 2005. Tentang Sistem Pendidikan Nasional.

Makalah Profesi Keguruan

PROFESI KEGURUAN

KATA PENGANTAR

Puji syukur kami panjatkan kehadirat Allah atas curahan rahmat dan karunia-Nya, shalawat dan salam semoga tetap terlimpahkan kepada Rasulullah Muhammad SAW beserta keluarga. Amin
Makalah kami ini berjudul “Profesi Keguruan” yang akan dibahas pada tiap-tiap halamannya. Materi-materi yang dipaparkan di makalah ini merupakan materi yang sangat penting dipelajari untuk calon guru. Sehingga, dengan makalah ini pembaca diharapkan dapat lebih memahami mengenai profesi keguruan ini.
Semoga amal kebaikan diterima Allah SWT dan mendapatkan imbalan dariNya. Dalam penyusunan makalah ini penyusun menyadari masih jauh dari kesempurnaan, untuk itu penyusun mengharap kritik dan saran untuk perbaikan dimasa mendatang.
makalah profesi guru
Makalah Profesi Keguruan

BAB I
PENDAHULUAN
1. Latar Belakang Makalah Profesi Keguruan
Guru memang menempati kedudukan yang terhormat di masyarakat. Guru dapat dihormati oleh masyarakat karena kewibawaannya, sehingga masayarakat tidak meragukan figur guru. Masyarakat percaya bahwa dengan adanya guru, maka dapat mendidik dan membentuk kepribadian anak didik mereka dengan baik agar mempunyai intelektualitas yang tinggi serta jiwa kepemimpinan yang bertanggungjawab. 
Jadi dalam pengertian yang sederhana, guru dapat diartikan sebagai orang yang memberikan ilmu pengetahuan kepada anak didik. Sedangkan guru dalam pandangan masyarakat itu sendiri adalah orang yang melaksanakan pendidikan ditempat-tempat tertentu, tidak mesti di lembaga pendidikan yang formal saja tetapi juga dapat dilaksanakan di lembaga pendidikan non-formal seperti di masjid, di surau/mushola, di rumah dan sebagainya. Seorang guru mempunyai kepribadian yang khas. Disatu pihak guru harus ramah, sabar, menunjukkan pengertian, memberikan kepercayaan dan menciptakan suasana aman. Akan tetapi di lain pihak, guru harus memberikan tugas,mendorong siswa untuk mencapai tujuan, menegur, menilai, dan mengadakan koreksi. Tugas dan peran guru sebagai suatu profesi, menuntut guru untuk mengembangkan profesionalitas diri sesuai perkembangan ilmu pengetahuan dan teknologi. Untuk lebih jelasnya akan kami bahas pada BAB II.
2. Rumusan Masalah
  1. Apa Pengertian Guru Profesional?
  2. Apa saja tugas guru profesional?
  3. Apa saja Peran Guru Profesional?
3. Tujuan Penulisan
  1. Untuk mengetahui dan memahami maksud dari guru profesional
  2. Untuk mengetahui dan memahami maksud tugas guru profesional
  3. Untuk mengetahui dan memahami maksud Peran Guru Profesional
BAB II
PROFESI KEGURUAN

1. Pengertian Guru Profesional

Guru profesional adalah guru yang mampu menerapkan hubungan yang berbentuk multidimensional. Guru yang demikian adalah yang secara internal memiliki empat kompetensi, yaitu: kompetensi pedagogik, kompetensi profesional, kompetensi kepribadian, dan kompetensi sosial. 
Jadi pada dasarnya pekerjaan seorang guru merupakan suatu profesi yang tentunya harus dijalankan dengan profesional dan sesuai dengan keahlian. Sehingga untuk mendukung hal itu tentulah seorang guru harus memiliki pendidikan uintelektual yang khusus. Sehingga seorang guru dapat memiliki keterampilan teknis yang yang berkualitas tinggi dan barulah seorang guru dapat dikatakan sebagai seseorang yang profesional.

2. Tugas Guru 

Untuk mengenal lebih jauh tentang tugas dan peran guru profesional , kita kenal dulu pengertian Tugas dalam Kamus Besar Bahasa Indonesia (KBBI ) Tugas adalah pekerjaan yang merupakan tanggung jawab seseorang ,atau sesuatu yang wajib dilakukan atau ditentukan untuk perintah agar melakukan sesuatu dalam jabatan tertentu .Sesuai dengan ketentuan Undang –Undang No 14 tahun 2005 tentang Guru dan Dosen , yang diperjelas lagi oleh Peraturan Pemerintah Republik Indonesia No 74 Tahun 2008 tentang Guru, disebutkan sebagai pendidik profesional dengan tugas utama mendidik ,mengajar ,membimbing, mengarahkan ,melatih , menilai dan mengevaluasi peserta didik pada pendidikan anak usia dini jalur pendidikan formal , pendidikan dasar , dan pendidikan menengah ( Pasal 1 ayat 1, PP .No.74/2008 ). Jadi, tugas guru selain dari memberikan ilmu pengetahuan juga memberikan pendidikan dalam bidang moral pada anak didik sebagaimana yang disebutkan dalam UU diatas .
Guru adalah figure seorang pemimpin. Guru adalah sosok arsitektur yang dapat membentuk jiwa dan watak anak didik. Guru mempunyai kekuasaan untuk membentuk dan membangun kepribadian anak didik menjadi seorang yang berguna bagi agama, nusa dan bangsa. 
Jabatan guru memiliki banyak tugas, baik yang terikat oleh dinas maupun diluar dinas dalam bentuk pengabdian. Tugas guru tidak hanya sebagai suatu profesi, tetapi juga sebagai suatu tugas kemanusian dan kemasrakatan. 
Tugas guru sebagai suatu profesi menuntut kepada guru untuk mengembangkan profesionalitas diri sesuai perkemnbangan ilmu pengetahuan dan teknologi. Mendidik, mengajar, dan melatih anak didik adalah tugas guru sebagai suatu profesi. Tugas guru sebagai suatu pendidik berarti meneruskan dan mengembangkan nilai-nilai hidup kepada anak didik. Tugas guru sebagai pengajar berarti meneruskan dan mengembangkan ilmu pengetahuan dan teknologi kepada anak didik. Tugas guru sebagai pelatih berarti mengembangkan keterampilan dan menerapkannya dalam kehidupan demi masa depan anak didik. 
Dibidang kemasyarakatan merupakan tugas guru yang juga tidak kalah pentingnya. Pada bidang ini guru mempunyai tugas mendidik dan mengajar masyarakat untuk menjadi warga Negara Indonesia yang bermoral pancasila. 
Tugas Kemanusiaan salah satu segi dari tugas guru . Sisi ini tidak bisa guru abaikan,karena guru harus terlibat dengan kehidupan di masyarakat dengan interaksi sosial . Guru harus menanamkan nilai – nilai kemanusiaan kepada anak didik . Dengan begitu anak didik dididik agar mempunyai sifat kesetiakawanan sosial .
Tugas guru dalam bidang kemanusiaan di sekolah harus dapat menjadikan dirinya sebagai orang tua kedua . Ia harus mampu menarik simpati sehingga ia menjadi idola para siswa.
Berdasarkan Undang – Undang No .14 Tahun 2005 tentang Guru dan Dosen pasal 20 , maka tugas guru adalah :
  1. Merencanakan pembelajaran, melaksanakan proses pembelajaran yang bermutu serta menilai dan mengevaluasi hasil pembelajaran
  2. Meningkatkan dan mengembangkan kualifikasi akademik dan kompetensi secara berkelanjutan sejalan dengan perkembangan ilmu pengetahuan, teknologi dan seni
  3. Bertindak Obyektif dan tidak bertindak diskriminatif atas dasar pertimbangan jenis kelamin, agama, suku , ras dan kondisi fisik tertentu atau latar belakang keluarga dan status sosial ekonomi , peserta didik dalam pembelajaran.dalam hal ini perhatian diberikan secara adil tanpa adanya perbedaan .
  4. Menjunjung tinggi peraturan perundang – undangan , hokum dank ode etikguru, serta nilai agama dan etika
  5. Memelihara dan memupuk persatuan dan kesatuan bangsa . 
Menurut Roestiyah N.K, bahwa guru dalam mendidik anak didik bertugas untuk :
  1. Menyerahkan kebudayaaan kepada anak didik berupa kepandaian, kecakapan, dan pengalaman-pengalaman.
  2. Membentuk kepribadaian anak uyang harmonis sesuai cita-cita dan dasar egara kita pancasila.
  3. Mennyiapkan anak didik menjadi warga Negara yang baik.
  4. Guru sebagai perantara dalam belajar
  5. Guru sebagai pembimbing, membawa anak didik kearah kedewasaan. 
  6. Guru sebagi penghubung antara sekolah dan masyarakat.
  7. Sebagia penegak disiplin, guru menjadi contoh dalam segala hal. Tata tertib dapat berjalan bila guru dapat menjalani lebih dahulu.
  8. Guru sebagai administrator dan menejer.
  9. Pekerjaan guru sebagai suatu profesi
  10. Guru sebagai perencana kurikulum
  11. Guru sebagai pemimpin.
  12. Guru sebai sponsor dalam kegiatan anak-anak. 
Jadi, menurut poin-poin diatas tentulah tugas seorang guru sebagai pendidik tidak lah mudah. Oleh karena itu, profesi guru harus dijalankan oleh seorang guru sebagai panggilan jiwa, sehingga dapat menjalankan tugasnya dengan baik, benar, dan ikhlas. Disamping itu seorang guru akan sukses melaksanakan tugas apabila ia profesional dalam bidang keguruannya . Guru yang Profesional hendaknya mampu memikul dalam melaksanakan tugas dan tanggung jawab sebagai guru kepada peserta didik,orang tua ,masyarakat ,bangsa, Negara dan agamanya.

3. Peran Guru 

Sebelum membahas berbagai peran guru , ada baiknya kita mengenal terlebih dahulu defenisi dari kata “ Peran “ itu sendiri. Menurut Kamus Besar Bahasa Indonesia ( KBBI ) Peran merupakan tingkah yang diharapkan dimiliki oleh orang yang berkedudukan di masyarakat .Sedangkan menurut Soerjono Soekanto ( 1990 : 268 ), Peran adalah aspek dinamis dari kedudukan ( status ) .Apabila seseorang melaksanakan hak dan kewajibannya sesuai dengan kedudukannya, maka dia menjalankan suatu peran.
Perilaku Individu dalam kesehariannya hidup bermasyarakat berhubungan erat dengan peran .Karena Peran mengandung hak dan kewajiban yang harus dijalani seorang individu dalam bermasyarakat . Sebuah peran harus dijalankan sesuai dengan norma – norma yang berlaku juga di masyarakat .Seorang individu akan terlihat status sosialnya hanya dari peran yang dijalankan dalam kesehariannya .Ketika istilah peran digunakan dalam lingkungan pekerjaan , ,maka seseorang yang diberi ( atau mendapatkan ) sesuatu posisi, juga diharapkan menjalankan perannya sesuai dengan apa yang diharapkan oleh pekerjaan tersebut Seperti halnya seorang Guru yang menjalankan perannya sesuai dengan apa yang diharapkan oleh pekerjaan tersebut .

Peran Guru dalam Proses Belajar – Mengajar

Sebagaimana yang telah diungkapkan diatas ,bahwa peran seorang guru sangat signifikan dalam proses belajar mengajar .Peran seorang guru sangat penting dalam proses belajar mengajar. Peran guru dalam proses belajar mengajar meliputi banyak hal seperti sebagai pengajar, manajer kelas, supervisor, motivator, konsuler, eksplorator, dsb.
Banyak peran yang diperlukan dari guru sebagai pendidik, atau siapa saja yang telah menerjunkan diri menjadi guru,diantaranya sebagai korektor, inspirator , informator, organisator , motivator , inisiator, fasilitator ,pembimbing , demonstrator , pengelola kelas , evaluator dan lain – lain . Sedangkan Menurut Moh . Uzer Usman dalam bukunya “ Menjadi Guru Profesional “( 2005 ), Peranan Guru yang paling dominan dalam proses belajar mengajar ,yaitu sebagai berikut :
  1. Guru sebagai Demonstrator
  2. Guru sebagai Pengelola Kelas
  3. Guru sebagai Mediator dan fasilitator
  4. Guru sebagai evaluator
Sedangkan Menurut Gary Flewelling dan William Hingginson (2003), menggambarkan peran guru sebagai berikut:
  1. Memberikan stimulasi kepada siswa dengan menyediakan tugas-tugas pembelajaran yang kaya dan terancang baik untuk meningkatkan perrkembangan intelektual, emosional, spiritual, dan sosial.
  2. Berinteraksi dengan siswa untuk mendorong keberanian, menantang, berdiskusi, berbagi, menjelaskan, menegaskan, merefleksi, menilai dan merayakan perkembangan, pertumbuhan dan keberhasilan.
  3. Menunjukan manfaat yang diperoleh dari mempelajari suatu pokok bahasan.
  4. Berperan sebagai seseorang yang membantu, seseorang yang mengarahkan dan memberi penegasan, seseorang yang mengilhami siswa dengan cara membangkitkan rasa ingin tahu, rasa antusias. Dengan demikian guru berperan sebagai pemberi informasi, fasilitator, dan artis.

Peran Guru dalam Pengadministrasian

Dalam hubungannya dengan kegiatan pengadministrasian ,seorang guru dapat berperan sebagai :
  1. Pengambil inisiatif, pengarah dan penilai kegiatan pendidikan
  2. Wakil masyarakat
  3. Ahli dalam bidang mata pelajaran
  4. Penegak disiplin
  5. Pelaksana administrasi pendidikan

Peran Guru secara Pribadi

Dilihat dari segi dirinya sendiri ( self oriented ), seorang guru harus berperan sebagai berikut:
  1. Petugas Sosial, yaitu seorang yang harus membantu untuk kepentingan masyarakat . Dalam kegiatan – kegiatan masyarakat guru senantiasa merupakan petugas – petugas yang dapat dipercaya untuk berpartisipasi didalamnya .
  2. Pelajar dan Ilmuan, yaitu senantiasa terus menerus menuntut ilmu pengetahuan
  3. Orang tua, yaitu mewakili orang tua murid di sekolah dalam pendidikan anaknya. Sekolah merupakan lembaga pendidikan sesudah keluarga , sehingga dalam arti luas sekolah merupakan keluarga ,guru berperan sebagai orang tua bagi siswa – siswanya
  4. Pencari teladan,yaitu yang senantiasa mencarikan teladan yang baik untuk siswa bukan untuk seluruh masyarakat .Guru menjadi ukuran bagi norma – norma tingkah laku .
  5. Pencari keamanan, yaitu yang senantiasa mencarikan rasa aman bagi siswa .Guru menjadi tempat berlindung bagi siswa – siswa untuk memperoleh rasa aman dan puas didalamnya .
BAB III
PENUTUP
1. Kesimpulan
Berdasarkan Undang – Undang No .14 Tahun 2005 tentang Guru dan Dosen pasal 20 , maka tugas guru adalah :
  1. Merencanakan pembelajaran , melaksanakan proses pembelajaran yang bermutu serta menilai dan mengevaluasi hasil pembelajaran
  2. Meningkatkan dan mengembangkan kualifikasi akademik dan kompetensi secara berkelanjutan sejalan dengan perkembangan ilmu pengetahuan, teknologi dan seni
  3. Bertindak Obyektif dan tidak bertindak diskriminatif atas dasar pertimbangan jenis kelamin, agama, suku , ras dan kondisi fisik tertentu atau latar belakang keluarga dan status sosial ekonomi , peserta didik dalam pembelajaran.dalam hal ini perhatian diberikan secara adil tanpa adanya perbedaan .
  4. Menjunjung tinggi peraturan perundang – undangan , hokum dank ode etikguru, serta nilai agama dan etika
  5. Memelihara dan memupuk persatuan dan kesatuan bangsa
Sedangkan Peranan Guru meliputi Peran Guru dalam Proses Belajar–Mengajar ,Peran dalam Kegiatan Pengadministrasian, Peran secara Pribadi.
2. Saran
Mengingat begitu luasnya Tugas dan Peran Guru Profesional , hendaknya Guru harus mendapatkan haknya secara proporsional dengan gaji yang patut diperjuangkan melebihi profesi – profesi lainnya ,sehingga keinginan peningkatan kompetensi guru dan kualitas belajar anak didik bukan hanya slogan diatas kertas. Demikian Makalah Profesi Keguruan dapat kami uraikan, semoga kiranya bermanfaat bagi kita semua.
DAFTAR PUSTAKA
Djamarah, Syaiful Bahri . 2000.Guru dan Anak DIdik Dalam Interaksi Edukatif . Jakarta : PT. Rineka Cipta
Usman.Moh Uzer.2005.Menjadi Guru Profesional . Bandung : PT.Remaja Rosdakarya
Suyono dan Harianto . 2011. Belajar dan Pembelajaran, Bandung: PT. Remaja Rosdakarya
Undang Undang No.14 tahun 2005 pendidikan nasional Indonesia , Jakarta: Depdiknas RI
Undang- Undang Republik Indonesia Nomor 20 tahun 2003 manajemen pendidikan , Jakarta: Depdiknas RI

PENDEKATAN SISTEM DALAM BELAJAR

PENDEKATAN SISTEM DALAM PEMBELAJARAN

A. Latar Belakang

Pendekatan sistem dalam pembelajaran adalah salah satu jalan yang akan ditempuh oleh guru beserta siswa dalam mencapai tujuan intruksional untuk suatu satuan intruksional tertentu. Pendekatan pembelajaran adalah aktivitas bagi guru dalam memilih kegiatan pembelajaran. Pendekatan pembelajaran digunakan sebagai penjelas untuk mempermudah bagi para guru memberikan pelayanan belajar dan juga memudahkan bagi siswa dalam memahami materi ajar yang disamapikan guru dengan memelihara suasana pembelajaran yang menyenangkan.
pendekatan sistem mengajar
pendekatan sistem dalam belajar dan pembelajaran
Dalam pokok pendekatan pembelajaran dilakukan oleh guru untuk menjelaskan materi pelajaran dari bagian-bagian yang satu dengan bagian lainnya berorientasi pada pengalaman-pengalaman yang dimiliki siswa untuk mempelajari konsep, prinsip atau teori yang baru tentang suatu bidang ilmu. Maka didalam makalah ini akan membahas tentang “pendekatan sistem dalam belajar dan pembelajaran”.
B. Rumusan Masalah

  1. Apa yang dimaksud dengan konsep pendekatan sistem dalam pembelajaran?
  2. Bagaimana Ciri-ciri sistem dalam belajar dan pembelajaran?
  3. Apa Komponen-komponen pendekatan sistem pembelajaran?
  4. Apa Manfaat dalam pendekatan sistem pembelajaran?
C. Tujuan Penulisan
  1. Dapat mengetahui maksud pendekatan sistem?
  2. Dapat mengetahui ciri-ciri sistem dalam pembelajaran?
  3. Dapat mengetahui Komponen-komponen pendekatan sistem pembelajaran?
  4. Dapat mengeahui Manfaat pendekatan sistem pembelajaran?
BAB II
PEMBAHASAN

A. Pengertian Pendekatan Sistem

Dalam The Holt Intermediate Dictionary Of American English (1966) dinyatakan bahwa sistem adalah sekelompok bagian-bagian yang bekerja sama secara keseluruhan berdasarkan suatu tujuan bersama. Menurut Churchman (1968) sistem merupakan seperangkat bagian yang terkoordinasi untuk menyelesaikan seperangkat tujuan.
Definisi sistem yang agak luas telah dirumuskan oleh Kast, dan Rosenzweig (1974), yaitu sistem dipahami sebagai suatu tatanan yang menyeluruh dan terpadu terdiri atas dua bagian atau lebih yang saling tergantung dan ditandai oleh batas-batas yang tegas dari lingkungan suprasistemnya. Haveloch dan Huberman (1978) mendefinisikan sistem sebagai suatu kumpulan unsure yang berkaitan satu dengan lainnya secara signifikan.
Sistem adalah suatu cara untuk mencapai tujuan tertentu yang dalam penggunaanya bergantung pada berbagai factor yang erat hubungannya dengan usaha pencapaian tujuan tersebut.
Istilah pendekatan sistem sendiri diartikan sebagai sebuah proses yang logis dan beruang yang dpat digunakan untuk memperbaiki dan meningkatkan mutu progam pembelajaran. Benny, berpandangan bahwa pendekatan sitem adalah sebuah prosedur yang digunakan oleh perancang desain sistem pembelajaran untuk menciptakan sebuah pembelajaran yang efektif dan efisien.
Johson, Kast, dan Rosenzweig (1973) mengemukakan bahwa pendekatan sistem ialah cara berpikir untuk mengatur tugas, melalui suatu kerangka yang melukiskan factor-faktor lingkungan internal dan eksternal sehingga merupakan suatu keseluruhan secara terpadu.
Sejalan dengan pendapat ketiga pakar tersebut, Van Gigch (1974) mengemukakan, bahwa pendekatan sitem merupakan desain metodologi, kerangka kerja konseptual, metode ilmiah baru, teori keorganisasian, system manajemen, metode rekayasa riset operasi, dan metode untuk meningkatkan efisiensi biaya serta metode untuk menerapkan teori umum sistem (Bertalanffy, 1979).
Pendekatan sistem adalah dasar penentuan strategi yang akan diwujudkan dengan penentuan metode merupakan alat yang digunakan dalam pelaksanaan strategi pembelajaran.
Sebagai desain metodologi, pendekatan sitem sebagai alat bantu bagi para pengambil keputusan dengan cara mempertimbangkan semua permasalahan yang berkaitan dengan keputusan yang di ambilnya,sedangkan pendekatan sitem sebagai kerangka konseptual bertujuan untuk mencari berbagai persamaan dan berbagai kecenderungan fenomena yang ada dengan menggunakan analisis multidisiplin.
Parson (1964) seorang pakar sosiologi telah mengadopsi pandangan umum teori system dan disajikan dasar dalam penelitian kelompok sosial. Didalam ilmu ekonomi pendekatan sistem telah diterapkan secara meluas dalam system ekonomi modern. Konsep keseimbangan yang menjadi salah sat karakteristik dalam konsep dasar dalam teori dan praktik ekonomi. Hal ini pula yang menjadi dasar konsep teori penawaran dan permintaan (Suppy And Demand) dalam teori dan praktik ekonomi.
Dari bahasan diatas dapat diartikan bahwa pendekatan sistem dalam belajar dan pembelajaran adalah titik tolak atau sudut pandang terhadap proses pembelajaran atau merupakan gambaran pola umum perbuatan guru dan peserta didik di dalam perwujudan kegiatan pembelajaran.

B. Ciri - Ciri sistem pembelajaran.

Menurut Oemar Hamalik dalam Darwin Syah diuraikan tiga cirri khas yang terkandung dalam sistem pembelajaran yaitu :

  1. Rencana, penataan intensional orang, material dan prosedur yang merupakan unsur sistem pembelajaran sesuai dengan suatu rencana khusus, sehingga tidak mengambang.
  2. Kesalingtergantungan (interdependent), unsur-unsur suatu sistem merupakan bagian yang koheren dalam keseluruhan, masing-masing bagian bersifat esensial, satu sama lain saling memeberikan sumbangan tertentu.
  3. Tujuan, setiap sistem pengajaran memiliki tujuan tertentu. The goal is the purpose for which the system is design.
Dilihat dari segi pendekatannya, dalam pembelajaran terdapat dua jenis pendekatan, yaitu:

  1. Pendekatan pembelajaran yang berorientasi atau berpusat pada siswa (student centered approach ).
  2. Pendekatan pembelajaran yang berorientasi atau berpusat pada guru (teacher centered approach).

C. Komponen yang mempengaruhi sistem dalam belajar dan pembelajaran

Beberapa komponen yang dapat mempengaruhi sistem dalam proses belajar dan pembelajaran yaitu sebagai berikut:
a. Siswa
Siswa adalah subjek yang terlibat dalam kegiatan belajar mengajar di sekolah. Dalam kegiatan tersebut siswa mengalami tindak mengajar, dan merespon dengan tindakan belajar. Siswa merupakan salah satu komponen yang menempati posisi sentral dalam proses belajar mengajar. Di dalam proses belajar mengajar, siswa sebagai pihak yang ingin meraih cita-cita, memiliki tujuan dan kemudian ingin mencapainya secara optimal. Siswa akan menjadi factor penentu sehingga menuntut dan dapat mempengaruhi segala sesuatu yang diperlukan untuk mencapai tujuan belajarnya.[6] Jadi dalam proses belajar mengajar yang diperhatikan pertama kali adalah siswa karena siswalah yang memiliki tujuan tersebut.
b. Guru
Guru adalah sebagai pendidik,pembimbing,dan meditor. Dari pengertian tersebut dapat diartikan bahwasanya guru sebagai penegah dalam kegiatan belajar mengajar. Misalnya menegahi atau memberikan jalan keluar kemacetan dalam kegiatan diskusi siswa, memberikan suatu ilmu dan pengetahuan yang tidak diketahui siswa. Ditangan para gurulah terletak kemungkinan berhasil atau tidaknya pencapaian tujuan belajar mengajar disekolah dan bergantungnya masa depan para siswa yang menjadi tumpuan para orang tuanya.
Guru adalah komponen dalam sistem pembelajaran yang mempunyai tanggung jawab dalam merencanakan dan menuntut para siswa melakukan kegiatan-kegiatan belajar guna mencapai pertumbuhan dan perkembangan yang diinginkan. Guru juga bertanggung jawab atas membimbing siswa agar mereka memperoleh keterampilan-keterampilan, pemahaman, perkembangan berbagai kemampuan, dan ilmu pengetahuan yang ingin dicapai oleh wacana pembelajaran yang telah direncanakan dan ditetapkan.
c. Tujuan Pengajaan
Tujuan utama dari pengajaran adalah suatu cita-cita yang ingin dicapai dari pelaksanaan suatu kegiatan. Djamarah mengatakan bahwa tujuan pengajaan adalah deskripsi tentang penamplan prilaku murid-murid yang diharapkan setelah mereka mempelajari bahan yang di ajarkan oleh guru.
Sebelum pembelajaran dimulai, guru terlebih dahulu meruuskan dengan jelas tujuan apa yang hendak dicapai dalam pelajaran yang akan diberikan tersebut. perumusan tujuan pembelajaran dalam sebuah sistem pembelajaran perlu dilakukan pada tahap awal, yaitu pada saat mendesain progam pembelajaran. Hal ini dilakukan untuk mempermudah penentuan instrument evaluasi yang akan digunakan dalam mengatur pencapaian tujuan sekaligus juga merupakan hasil belajar. Peranan tujuan sangat penting sebab menentukan arah proses belajar mengajar. Tujuan yang jelas akan member petunjuk yang jelas pula terhadap pemilihan bahan pengajaran, penetapan metode dan alat bantu pengajaran.
d. Metode
Metode adalah suatu cara yang dipergunakan untk mencapai tujuan yang telah ditetapkan. Metode pembelajaran adalah cara-cara atau teknik penyajian bahan pelajaran yang akan digunakan oleh guru pada saat menyajikan bahan pelajaran, baik secara individu atau kelompok. Bereda dengan strategi mengajar (teaching strategy), metode mengajar tidak langsung berhubungan dengan hasil mengajar yang dikehendaki. Artinya dibandingkan dngan strategi, metode pada umumnya kuang berorientasi pada tujuan (less goal oriented). Karena metode ini dianggap komsep yang lebih luas dari pada strategi.
e. Media
Media adalah suatu alat yang digunakan sebagai saluran untuk menyampaikan suatu pesan atau informasi dari suatu sumber kepada penerima. Menurut Gagne dalam Sadiman menyatakan bahwa media adalah sebagai jenis komponen dalam lingkugan siswa yang dapat merangsangnya untuk belajar. Dan juga sebagai alat, metode, dan teknik yang digunakan dalam rangka lebih mengefektifkan komunikasi dan interaksi antara guru dan siswa dalam proses pendidikan dan pengajaran.
Berdasarkan pengertian diatas dapat disimpulkan bahwa dalam proses pembelajaran, media memiliki fungsi sebagai pembawa informasi dari sumber (guru) menuju penerima (siswa). Pengembangan media pembelajaran hendaknya diupayakan untuk memanfaatkan kelebihan-kelebihan yang dimiliki oleh media tersebut dan berusaha menghindari hambatan-hambatan yang mungkin muncul dalam proses pembelajaran.
Adapun dalam penggunaan media dalam pembelajaran sebaiknya memperhatikan kriteria-kriteria dibawah ini:

  1. Ketepatan dengan tujuan pengajaran
  2. Dukungan trhadap isi pelajaran
  3. Kemudahan memperoleh media
  4. Keterampilan guru dalam menggunakannya
  5. Tersedia waktu untuk menggunakannya
  6. Sesuai dengan taraf berfikir siswa
f. Materi
Dalam kegiatan belajar mengajar, materi harus didesain sedemikian rupa, sehingga cocok digunakan dalam mencapai tujuan dengan memperhatikan komponen-komponen yang lain, terutama komponen anak didik yang merupakan sentral. Pemilihan materi harus benar-benar dapat memberikan keckapan dalam memecahkan masalah kehidupan sehari-sehari. Materi pelajaran merupakan komponen kedua dalam siem pembelajaran. Dalam konteks tertentu, materi pelajaran merupakan inti dalam proses pembelajaran.
g. Evaluasi Belajar
Hasil belajar sangat erat berkaitan dengan pencapaia memperoleh kemampuan sesuai dengan tujuan pembelajaran yang telah direncanakan dan ditetapkan. Dengan demikian salah satu tugas pokok guru ialah mengevaluasi taraf keberhasilan rencana dan pelaksanaan kegiatan belajar mengajar. Evaluasi dalam belajar adalah proses yang perlu dilakukan untuk menentukan keberhasilan siswa dalam mencapai tujuan pembelajaran. Tujuan evaluasi dalam pembelajaran adalah untuk melihat sejauh mana taraf keberhasilan mengajar dan belajar peserta didik secara tepat dan dapat dipercaya. Kita memerlukan informasi yang didukung oleh data yang objektif dan memadai tentang indictor-indikator perubahan perilaku dan pribadi peserta didik.
Secara umum dapat diartikan bahwa evaluasi pembelajaran adalah penilaian atau pengukuran terhadap kemampuan dan kemajuan peserta didik dalam menguasai materi yang telah disampaikan sesuai dengan tujuan yang telah ditetapkan.
Evaluasi adalah bagian terpenting dalam pembelajaran yang dilakukan seorang guru untuk mengetahui tingkat pengetahuan awal, kecakapan siswa, dan program pengajaran.
h. Lingkungan
Lingkungan dalam pembelajaran adalah komponen PBM yang sangat penting demi suksesnya belajar siswa. Lingkungan ini mencakup lingkungan fisik, lingkungan sosial, lingkungan alam, dan lingkungan psikologis pada waktu PBM berlangsung.

D. Manfaat Pendekatan Sistem Pembelajaran

Merencanakan pembelajaran dengan menggunakan pendekatan sistem memiliki beberapa manfaat, di antaranya:

  1. Dengan pendekatan system, arah dan tujuan pembelajaran dapat direncanakan dengan jelas. Dapat kita bayangkan apa yang akan terjadi, manakala dalam suatu proses pembelajaran tanpa adanya tujuan yang jelas. Tentu, proses pembelajaran tidak akan menjadi fokus, dalam arti pembelajaran akan menjadi tidak bermakna serta sulit menentukan efektifitas proses pembelajaran.
  2. Pendekatan sistem menuntun guru pada kegiatan yang sistematis.
  3. Pendekatan sistem dapat merancang pembelajaran dengan mengoptimalkan segala potensi dan sumber daya yang tersedia.
  4. Pendekatam sistem dapat memberikan umpan baik. Melalui proses umpan balik dalam pendekatan sistem dapat diketahui apakah tujuan itu telah berhasil dicapai apa belum. Hal ini sangat penting sebab mencapai tujuan merupakan tujuan utama dalam berfikit sistemik.

CRITICAL THINKING

Pendekatan diartikan sebagai suatu proses, cara, perbuatan mendekati.pendekatan pembelajaran diartikan sebagai titik tolak atau sudut pandang kita terhadap proses pembelajaran. Keberhasilan suatu proses pebelajaran itu tergantung pada kinerja komponen-komponen yang terdapat pada sistem pembelajaran. Kerja sama antar komponen sangat diperlukan guna mencapai tujuan utama dalam proses pembelajaran, yaitu keberhasilan siswa mencapai sesuatu.
Faktor yang berpengaruh dalam proses belajar mengajar adalah guru. Kenapa? Karena guru merupakan komponen yang secara langsung berhadapan dengan siswa. Sehingga seorang guru dituntut professional. Professional dalam mengajar dan professional diluar peran sebagai guru. Professional mengajar maksudnya dalam menyampaikan materi seorang guru harus bisa menguasai materi yang akan disampaikan, bisa menguasai metode dalam pembelajaran, bisa menguasai cara mengevaluasi, dan sebagainya. Sedangkan professional diluar peran sebagai guru yaitu jika di sekolah sebagai seorang guru tetapi jika di rumah bisa memposisikan dirinya dan selalu memberikan contoh yang baik di luar sekolah. Meskipun guru juga seorang manusia biasa yang pastinya memiliki masalah pribadi dan keunikan tersendiri.
BAB III
PENUTUP
A. KESIMPULAN

  1. Pendekatan sitem adalah titik tolak atau sudut pandang terhadap proses pembelajaran atau merupakan gambaran pola umum perbuatan guru dan peserta didik di dalam perwujudan kegiatan pembelajaran.
  2. Cirri khas yang terkandung dalam sistem pembelajaran yaitu: rencana, material, dan prosedur, kesalingketergantungan, tujuan.
  3. Komponen-komponen dalam pendekatan sistem pembeljaran di antaranya:

  • Siswa
  • Guru
  • Tujuan pengajaran
  • Metode
  • Media
  • Materi
  • Evaluasi belajar
  • Lingkungan
Manfaat pendekatan sistem dalam pembelajaran antara lain:

  1. Melalui pendekatan system, arah dan tujuan pembelajaran dapat direncanakan dengan jelas
  2. Pendekatan system menuntun guru pada kegiatan yang sistematis.
  3. Pendekatan system dapat merancang pembelajaran dengan mengoptimalkan segala potensi dan sumber daya yang tersedia.
B. SARAN
Demikianlah makalah pendekatan sistem dalam belajar dan pembelajaran yang telah saya susun. Saya sadar dan tahu betul bahwa makalah saya masih sangat jauh dari kesempurnaan. Oleh sebab itu saya sangat mengharapkan sumbangan kritik dan saran yang membangun untuk memperbaiki makalah ini. semoga makalah ini bermanfaat bagi kami semua. Amin.
DAFTAR PUSTAKA
Ahmadi Iif Khoiru DKK. 2011. Pembelajaran Akselerasi. Jakarta: PT Prestasi Pustakaraya
Djamarah, 2002. Guru Dan Anak Didik, Jakarta: Rineka Cipta,
Rusyan A. Tabrani.1994 Pendekatan Dalam Proses Belajar Mengajar, Bandung: Remaja Rosdakary
Sadiman arief dkk,1993. Media Pendidikan- Pengertian, Pengembangan, Dan Pemanfaatannya, jakarta: Rajawali Pers
Sardiman. 2011 Intraksi Dan Motivasi Belajar Mengajar, Jakarta: Raja Grafindo Persada.
Sudjana Nana Dan Rivai, 1989. Media Pengajaran, Bandung: Sinar Baru
Soenarya, Endang. 2000. Teori Perencanaan Pendidikan Berdasarkan Pendekatan Sistem. Yogyakarta: Adicita Karya Nusa
Shah Darwin 2007. Perencanaan Sistem Pengajaran Pendidikan Agama Islam, Jakarta: Gaung Persada Pres
Utsman, Kahar dan Nadhirin. 2008. Perencanaan Pendidikan. Kudus: Pusat pengembanagan sumber belajar STAIN Kudus.
Wina Sanjaya, 2008. Perencanaan dan Desain Sistem Pembelajaran, Jakarta : Prenada Media Group
Baca Juga : peranan media massa dalam Pembelajaran

KEKUASAAN, PENGARUH DAN POLITIK, KONFLIK, NEGOSIASI, KOMUNIKASI DAN KEPEMIMPINAN

MANAJEMEN KONFLIK, KEKUASAAN, PENGARUH & POLITIK, NEGOSIASI, KOMUNIKASI DAN KEPEMIMPINAN

Kata Pengantar 
Puji dan Syukur Penulis Panjatkan atas kehadirat Allah SWT karena berkat limpahan Rahmat dan Karunia-Nya sehingga penulis dapat menyusun makalah ini tepat pada waktunya. Makalah ini membahas tentang “Kekuasaan, Pengaruh dan Politik Konflik, Negosiasi dan Komunikasi dan Kepemimpinan".
Dalam penyusunan makalah ini, penulis banyak mendapat tantangan dan hambatan akan tetapi dengan bantuan dari berbagai pihak tantangan itu bisa teratasi. Oleh karena itu, penulis mengucapkan terima kasih kepada semua pihak yang telah membantu dalam penyusunan makalah ini. Semoga bantuannya mendapat balasan yang setimpal dari Allah SWT.
Penulis menyadari bahwa makalah ini masih jauh dari kesempurnaan baik dari bentuk penyusunan maupun materinya. Kritik konstruktif dari pembaca sangat penulis harapkan untuk penyempurnaan makalah selanjutnya. Akhir kata semoga makalah ini dapat memberikan manfaat kepada kita sekalian.   
xxxxxxxxx, November 2015
Penyusun 
BAB I
PEDAHULUAN
A.    Latar Belakang
     Sebagai suatu organisasi memerlukan tidak hanya seorang manajer untuk mengelola sumber daya lembaga organisasi yang lebih banyak berkonsentrasi pada permasalahan anggaran dan persoalan administratif lainnya, tetapi juga memerlukan pimpinan yang mampu menciptakan sebuah visi dan semua komponen individu yang terkait dengan lembaga orgnisasi.
     Kepemimpinan pada hakikatnya merupakan kemampuan yang dimiliki seseorang untuk membina, membimbing, mengarahkan dan mengerakkan orang lain agar dapat bekerjasama untuk mencapai tujuan yang telah ditetapkan. Untuk mewujudkan tujuan tersebut, pemimpin perlu melakukan serangkaian kegiatan diantaranya adalah mengarahkan orang-orang yang terlibat dalam organisasi yang dipimpinnya. Dengan kata lain tercapai atau tidak tujuan suatu organisasi sangat tergantung pada pimpinannya.
B.    Rumusan Masalah

  1. Jelaskan pengertian kekuasaan dan pengaruh
  2.  Apa yang dimaksud dengan politik dan konflik serta negosiasi
  3. Jelaskan pengertian komunikasi dan kepemimpinan serta teori kepemimpinan
C.    Tujuan
  1. Untuk mengetahui pengertian kekuasaan dan pengaruh
  2. Untuk mengetahui maksud dari politik dan konflik serta negosiasi
  3. Mengidentifikasi komunikasi dan kepemimpinan serta teori kepemimpinan
BAB II
PEMBAHASAN


A.    Kekuasaan

     Kekuasaan (power) adalah kemampuan yang dimiliki seseorang atau kelompok untuk mempengaruhi individu lain ataupun kelompok lain. Kekuasaan yang dimiliki seseorang akan menempatkan orang tersebut dalam suatu kedudukan yang lebih tinggi dibandingkan dengan orang lain yang dipengaruhinya. Pada umumnya kekuasaan akan menciptakan suatu hubungan yang vertical dalam suatu organisasi. Kekuasaan juga akan menentukan siapa yang pantas dan seharusnya mengambil keputusan (decision making) dalam suatu organisasi.
     Teori yang dikemukakan oleh French dan Raven ini menyatakan bahwa kepemimpinan bersumber pada kekuasaan dalam kelompok atau organisasi. Dengan kata lain, orang atau orang-orang yang memiliki akses terhadap sumber kekuasaan dalam suatu kelompok atau organisasi tertentu akan mengendalikan atau memimpin kelompok atau organisasi itu sendiri. Adapun sumber kekuasaan itu sendiri ada tiga macam, yaitu kedudukan, kepribadian dan politik.

B.    Pengaruh

     Daya yang ada atau timbul dari sesuatu (orang, benda) yang ikut membentuk watak, kepercayaan, atau perbuatan seseorang. Jadi, inti dari konsep kekuasaan dan pengaruh adalah suatu konsep yang saling berkaitan dan merupakan sikap yang harus dimiliki pemimpin.
     Pengaruh : Seorang pemimpin adalah seorang yang memiliki orang-orang yang mendukungnya yang turut membesarkan nama sang pimpinan. Pengaruh ini menjadikan sang pemimpin diikuti dan membuat orang lain tunduk pada apa yang dikatakan sang pemimpin.
     Kekuasaan/power : Seorang pemimpin umumnya diikuti oleh orang lain karena dia memiliki kekuasaan/power yang membuat orang lain menghargai keberadaannya. Tanpa kekuasaan atau kekuatan yang dimiliki sang pemimpin, tentunya tidak ada orang yang mau menjadi pendukungnya. Kekuasaan/kekuatan yang dimiliki sang pemimpin ini menjadikan orang lain akan tergantung pada apa yang dimiliki sang pemimpin, tanpa itu mereka tidak dapat berbuat apa-apa. Hubungan ini menjadikan hubungan yang bersifat simbiosis mutualisme, dimana kedua belah pihak sama-sama saling diuntungkan.

C.    Politik

     Politik adalah proses pembentukan dan pembagian kekuasaan dalam masyarakat yang antara lain berwujud proses pembuatan keputusan, khususnya dalam negara.Pengertian ini merupakan upaya penggabungan antara berbagai definisi yang berbeda mengenai hakikat politik yang dikenal dalam ilmu politik.
Politik adalah seni dan ilmu untuk meraih kekuasaan secara konstitusional maupun nonkonstitusional. Di samping itu politik juga dapat ditilik dari sudut pandang berbeda, yaitu antara lain:


  • Politik adalah usaha yang ditempuh warga negara untuk mewujudkan kebaikan bersama (teori klasik Aristoteles)
  • Politik adalah hal yang berkaitan dengan penyelenggaraan pemerintahan dan negara
  • Politik merupakan kegiatan yang diarahkan untuk mendapatkan dan mempertahankan kekuasaan di masyarakat
  • Politik adalah segala sesuatu tentang proses perumusan dan pelaksanaan kebijakan publik.
     Dalam konteks memahami politik perlu dipahami beberapa kunci, antara lain: kekuasaan politik, legitimasi, sistem politik, perilaku politik, partisipasi politik, proses politik, dan juga tidak kalah pentingnya untuk mengetahui seluk beluk tentang partai politik.
     Pada umumnya dapat dikatakan bahwa politik adalah usaha untuk menekankan peraturan-peraturan yang dapat diterima baik oleh sebagian besar orang, untuk membawa masyarakat kearah kehidupan bersama yang lebih harmonis. Usaha mencapai the good life ini menyangkut berbagai macam kegiatan yang antara lain menyangkut proses penentuan tujuan dari system, serta cara-cara melaksanakan tujuan itu. Masyarakat mengambil keputusan mengenai apakah yang menjadi tujuan dari system politik itu dan hal ini menyankut pilihan antara beberapa alternative serta urutan prioritas dari tujuan-tujuan yang telah ditentukan itu.

D.    Pengertian Konflik

     Mastenbroek dalam Soetopo  (2010), memandang konflik sebagai situasi di mana ketentuan tak berjalan, pernyataan ketidakpuasan, dan penciutan proses pembuatan keputusan.
     Menurut Soetopo (2010), konflik adalah suatu pertentangan dan ketidakseusaian kepentingan, tujuan, dan kebutuhan dalam situasi formal, sosial, dan psikologis, sehingga menjadi antagonis, ambivalen, dan emosional.
Menurut Kreitner (2005), konflik adalah sebuah proses di mana satu pihak menganggap bahwa kepentingan-kepentingannya ditentang atau secara negative dipengaruhi oleh pihak lain.
     Dari beberapa definisi di atas, dapat kita simpulkan bahwa konflik adalah suatu bentuk pertentangan yang terjadi antara dua pihak atau lebih di mana salah satu pihak merasa dirugikan atau dipengaruhi secara negative sehingga menimbulkan ketidakpuasan terhadap perilaku  pihak lain.

E.    Negosiasi

     Negosiasi menurut Ivancevich (2007) sebuah proses di mana dua pihak ( atau lebih ) yang berbeda pendapat berusaha mencapai kesepakatan. Menurut Sopiah (2008), negosiasi merupakan suatu proses tawar-menawar antara pihak-pihak yang terlibat dalam konflik. Sedangkan Robbins ( 2008) menyimpulkan negosiasi adalah sebuah proses di mana dua pihak atau lebih melakukan pertukaran barang atau jasa dan berupaya untuk menyepakati nilai tukarnya.
     Dari beberapa definisi diatas dapat disimpulkan bahwa negosiasi adalah suatu upaya yang dilakukan antara pihak-pihak yang berkonflik dengan maksud untuk mencari jalan keluar untuk menyelesaikan pertentangan yang sesuai kesepakatan bersama.

F.    Pengertian Komunikasi

     Kata atau istilah komunikasi (dari bahasa Inggris “communication”),secara etimologis atau menurut asal katanya adalah dari bahasa Latin communicatus, dan perkataan ini bersumber pada kata communis Dalam kata communis ini memiliki makna ‘berbagi’ atau ‘menjadi milik bersama’ yaitu suatu usaha yang memiliki tujuan untuk kebersamaan atau kesamaan makna.
     Komunikasi secara terminologis merujuk pada adanya proses penyampaian suatu pernyataan oleh seseorang kepada orang lain. Jadi dalam pengertian ini yang terlibat dalam komunikasi adalah manusia. Karena itu merujuk pada pengertian Ruben dan Steward(1998:16) mengenai komunikasi manusia yaitu:
Human communication is the process through which individuals –in relationships, group, organizations and societies—respond to and create messages to adapt to the environment and one another. Bahwa komunikasi manusia adalah proses yang melibatkan individu-individu dalam suatu hubungan, kelompok, organisasi dan masyarakat yang merespon dan menciptakan pesan untuk beradaptasi dengan lingkungan satu sama lain.
     Untuk memahami pengertian komunikasi tersebut sehingga dapat dilancarkan secara efektif dalam Effendy(1994:10) bahwa para peminat komunikasi sering kali mengutip paradigma yang dikemukakan oleh Harold Lasswell dalam karyanya, The Structure and Function of Communication in Society. Lasswell mengatakan bahwa cara yang baik untuk untuk menjelaskan komunikasi ialah dengan menjawab pertanyaan sebagai berikut: Who Says What In Which Channel To Whom With What Effect?
     Paradigma Lasswell di atas menunjukkan bahwa komunikasi meliputi lima unsur sebagai jawaban dari pertanyaan yang diajukan itu,yaitu:


  1. Komunikator (siapa yang mengatakan?)
  2. Pesan (mengatakan apa?)
  3. Media (melalui saluran/ channel/media apa?)
  4. Komunikan (kepada siapa?)
  5. Efek (dengan dampak/efek apa?).
     Jadi berdasarkan paradigma Lasswell tersebut, secara sederhana proses komunikasi adalah pihak komunikator membentuk (encode) pesan dan menyampaikannya melalui suatu saluran tertentu kepada pihak penerima yang menimbulkan efek tertentu.

G.    Fungsi-fungsi Komunikasi

Komunikasi menjalankan empat fungsi utama dalam organisasi atau perusahaan yaitu:

1. Pengendalian

     Fungsi komunikasi ini untuk mengendalikan perilaku anggota dengan beberapa cara. Setiap organisasi mempunyai wewenang dan garis panduan formal yang harus dipatuhi oleh pegawai.
     Bila pegawai, misalnya, diminta untuk terlebih dahulu mengkomunikasikan setiap keluhan yang berkaitan dengan pekerjaan ke atasan langsungnya, sesuai dengan uraian tugasnya, atau sesuai dengan kebijakan perusahaan, komunikasi itu menjalankan fungsi pengendalian. Namun komunikasi informal juga mengendalikan perilaku.

2. Motivasi

     Komunikasi memperkuat motivasi dengan menjelaskan ke para pegawai apa yang harus dilakukannya. Seberapa baik mereka bekerja, dan apa yang dapat dikerjakan untuk memperbaiki kinerja yang dibawah standar.

3. Pengungkapan emosi

     Komunikasi yang terjadi di dalam kelompok atau organisasi merupakan mekanisme fundamental dimana para anggota menunjukkan kekecewaan dan kepuasan. Oleh karena itu, komunikasi memfasilitasi pelepasan ungkapan emosi perasaan dan pemenuhan kebutuhan sosial.

4. Informasi

     Komunikasi memberikan informasi yang diperlukan dan kelompok untuk mengambil keputusan melalui penyampaian data guna mengenali dan mengevaluasi pilihan-pilihan alternatif.

H. Model Komunikasi

a. Model S-R

     Model ini adalah model komunikasi paling dasar. Model ini dipengaruhi oleh disiplin psikologi, khususnya yang beraliran bihavioristik. Komunikasi dianggap sebagainsuatu proses aksi-reaksi yang sangat sederhana. Ketika saya tersenyum pada Anda dan Anda membalas senyiman saya, itulah model S-R. Model ini mengasumsikan bahwa kata-kata verbal (lisan-tulisan), isyarat-isyarat non verbal, gambar-gambar, dan tindakan-tindakaj tertentu akan merangsang orang lain untuk memberikan respon dengan cara tertentu.  
     Model ini mengabaikan adanya faktor manusia seperti sistem internal individu. Singkatnya model ini menganggap bahwa komunikasi itu bersifat statis. Manusia selalu karena adanya stimulus atau rangsangan dari luar, bukan berdasarkan kehendak, keinginan atau kemauan bebasnya. Oleh karena itu, model ini kurang tepat kalau diterapkan pada proses komunikasi manusia. 
Model Komunikasi S-R
Gambar 1. Model Komunikasi S-R


b. Model Arisroteles

     Aristoteles adalah filosof Yunani, tokoh paling dini yang mengkaji komunikasi, yang intinya adalah persuasi Model Aristoteles adalah model yang paling klasik atau disebutbjuga model retoris. Oleh karena itu, model ini merupakan penggambaran dari komunikasi retoris, konu8mikasi publik atau pidato. Aristoteles adalah orang pertama yang merumuskan model komunikasi verbal pertama. Proses komunikasi terjadi ketika ada seorang pembicara berbicara kepada orang lain atau khalayak lain dala rangka merubah sikap mereka.
     Aristoteles mengemukakan tiga unsur yang harus ada dalam proses komunikasi :
  1. Pembicara (speaker)
  2. Pesan (message)
  3.  Pendengar (listener)
     Menurut Aristoteles, persuasi dapat dicapai oleh :
  1. Siapa Anda (etos-kepercayaan anda)
  2. Apa argumen Anda (Logos-logika dalam pendapat Anda)
  3. Dengan memainkan emosi khalayak (pathos-emosi khalayak)
     Salah satu kelemahan model ini adalah bahwa proses komunikasi dipandang sebagai suatu yang statis dan tidak mempedulikan saluran, umpan balik, efek, dan kendala-kendala. Disanping itu, model ini juga berfokus pada komunikasi yang disengaja (komunikator mempunyai keinginan secara sadar untuk merubah sikap orang lain).
Model Komunikasi Aristotele's
Gambar 2. Model Komunikasi Aristotele's



c. Model Laswell

     Model ini merupakan sebuah pandangan umum tentang komunikasi yang dikembangkan dari batasan ilmu polotik.
Who say what in which channel to whom with what effect?
Laswell mengemukakan tiga fungsi komunikasi, yaitu :
  1. Pengawasan lingkungan,
  2. Korelasi berbagai bagian terpisah dalam masyarakat yang merespon lingkungan.
  3. Transmisi warisan sosial.
     Model ini merupakan versi verbal dari model Shannon dan Weaver. Model ini melihat komunikasi sebagai transmisi pesan : Model ini mengungkapkan isu “efek” dan bukannya “makna”. Efek secara tak langsung menunjukkan adanya perubahan yang bisa diukur dan diamati pada penerima yang disebabkan unsur-unsur yang bisa diidentifikasi dalam prosesnya. Model ini lebih sesuai diterapkan pada kajian komunikasi massa.
Model Komunikasi Lasswell's
Gambar 3. Model Komunikasi Lasswell's

d. Model Shannon dan Weaver

     Model shannon dan weaver terdiri dari lima elemen :
  1. Information Source adalah yang memproduksi pesan.
  2. Transmitter yang menyandikan pesan dalam bentuk sinyal.
  3. Channel adalah saluran pesan.
  4. Receiver adalah pihak yang menguraikan atau mengkonstruksikan pesan dari sinyal.
  5. Destination adalah dimana pesan sampai.
     Suatu konsep penting dalam model ini adalah gangguan (noise), yakni setiap rangsangan tambahan dan tidak dikehendaki yang dapat mengganggu kecermatan pesan yang disampaikan. Konsep-konsep lain yang merupakan andil Shannon dan Weaber adalah entropi dan redudansi. Model ini diterapkan pada konteks-konteks komunikasi lainnya seperti komunikasi antarpribadi, komunikasi publik atau komunikasi massa. Sayangnya, model ini juga memberikan gambaran yang parsial mengenai proses komunikasi.
5 Model Komunikasi shannon dan weaver
Gambar 4. Model Komunikasi shannon dan weaver

e. Model Schramm

     Menurut Schram komunikasi senantiasa membutuhkan setidaknya tiga unsur :
1. Sumber, bisa berupa :
•   Seorang individual berbicara, menulis, menggambar, bergerak.
•   Sebuah organisasi komunikasi (koran, rumah produksi, televisi).
2. Pesan, dapat berupa tinta dalam kertas, gelombang suara dalam udara, lambaian tangan, atau sinyal-sinyal lain yang memiliki makna.
3. Sasaran, dapat berupa individu yang mendengarkan, melihat, membaca, anggota dari sebuah kelompok, mahasiswa dalam perkuliahan, khalayak massa, pembaca surat kabar, penonton televisi, dll.
     Schramm melihat komunikasi sebagai usaha yang bertujuan untuk menciptakan commonness antara komunikator dan komunikan. Hal ini karena komunikasi berasal dari bahasa latin communis yang artinya sama.
     Schramm mengenalkan konsep field of experience, yang menurut Schramm sangat berperan dalam menentukan apakah komunikasi diterima sebagaimana yang diinginkan oleh komunikan. Beliau menekankan bahwa tanpa adanya field of experience yang sama, hanya ada sedikit kesempatan bahwa suatu pesan akan diinterpretasikan dengan tepat. Dalam hal ini, model Schramm adalah pengembangan dari model Shannon dan Weaver. Schramm mengatakan bahwa pentingnya feedback adalah suatu cara untuk mengatasi masalah noise. Pada model ini, Schramm percaya bahwa ketika komunikan memberikan umpan balik maka ia akan berada pada posisi komunikator (source).
model komunikasi schramm
Gambar 5. model komunikasi schramm




f. Model Berlo

     Model-model komunikasi makin hari makin dikembangkan di antaranya yang paling terkenal model yangf dikembangkan oleh David Berlo pada tahun 1960. Modelnya hanya memperlihatkan proses komunikasi satu arah dan hanya terdiri dari empat komponen yaitu sumber, pesan, saluran dan penerima atau receiver. Akan tetapi pada masing-masing komponen tersebut ada sejumlah faktor kontrol.
     Faktor ketrampilan, sikap, pengetahuan, kebudayaan, dan sistem social dari sumber atau orang yang mengirim pesan merupakan factor penting dalam menentukan isi pesan, perlakuan atau treatment dan penyandian pesan. Faktor-faktor ini juga berpengaruh kepada penerima pesan dalam menginterpretasikan isi pesan yang dikirimkan. Saluran yang dapat digunakan dalam komunikasi adalah penglihatan, pendengaran, penciuman, perasaan, dan alat peraba.
     Model komunikasi Berlo di samping menekankan ide bahwa meaning are in the people atau arti pesan yang dikirimkan pada orang yang menerima pesan bukan pada kata-kata pesan itu sendiri.

model komunikasi berlo
Gambar 6. model komunikasi berlo


g. Model Interaksional

    Model ini berlawanan dengan model stimulus-respons (S-R) dan beberapa model linier lainnya. Sementara model-model tersebut berasumsi bahwa manusia sebagai pasif, model interaksional menganggap manusia jauh lebih aktif.
    Dalam ilmu komunikasi sebenarnya terdapat ratusan model komunikasi. Setiap model memiliki kelebihan dan kekurangan masing-masing. Setiap model hanya dapat diukur berdasarkan kemanfaatannya ketika dihadapkan dengan dunia nyata, khususnya ketika digunakan untuk menyaring data dalam penelitian.
Komunikasi Interpersonal
    Komunikasi dapat didefinisikan sebagai penyampaina informasi antara dua orang atau lebih. Komunikasi merupakan suatu proses yanh vital dalam organisasi karena komunikasi diperlukan bagi evektifitas kepemimpinan, perencanaan, pengendalian, koordinasi, latihan , manajemen konfilk, serta proses-proses organisasi lainnya.
    Komunikasi interpersonal biasanya didefinisikan oleh komunikasi ulama dalam berbagai cara, biasanya menggambarkan peserta yang tergantung pada satu sama lain dan memiliki sejarah bersama. Hal ini dapat melibatkan satu pada satu percakapan atau individu berinteraksi dengan banyak orang dalam masyarakat. Ini membantu kita memahami bagaimana dan mengapa orang berperilaku dan berkomunikasi dengan cara yang berbeda untuk membangun dan menegosiasikan realitas sosial . Sementara komunikasi interpersonal dapat didefinisikan sebagai area sendiri studi, itu juga terjadi dalam konteks lain seperti kelompok dan organisasi.
     Komunikasi interpersonal adalah termasuk pesan pengiriman dan penerimaan pesan antara dua atau lebih individu. Hal ini dapat mencakup semua aspek komunikasi seperti mendengarkan, membujuk, menegaskan, komunikasi nonverbal , dan banyak lagi. Sebuah konsep utama komunikasi interpersonal terlihat pada tindakan komunikatif ketika ada individu yang terlibat tidak seperti bidang komunikasi seperti interaksi kelompok, dimana mungkin ada sejumlah besar individu yang terlibat dalam tindak komunikatif. Deddy 
    Mulyana (2005) menyatakan: “komunikasi antarpribadi (interpersonal communication) adalah komunikasi antara orang-orang secara tatap muka, yang memungkinkan setiap pesertanya menangkap reaksi orang lain secara langsung, baik secara verbal ataupun nonverbal.” (Mulyana, 2005:73).
    Individu juga berkomunikasi pada tingkat interpersonal berbeda tergantung pada siapa mereka terlibat dalam komunikasi dengan. Sebagai contoh, jika seseorang berkomunikasi dengan anggota keluarga, bahwa komunikasi akan lebih dari mungkin berbeda dari jenis komunikasi yang digunakan ketika terlibat dalam tindakan komunikatif dengan teman atau penting lainnya.
    Secara keseluruhan, komunikasi interpersonal dapat dilakukan dengan baik dan tidak langsung media komunikasi langsung seperti tatap muka interaksi, serta komputer-mediated-komunikasi. Sukses mengasumsikan bahwa baik pengirim pesan dan penerima pesan akan menafsirkan dan memahami pesan-pesan yang dikirim pada tingkat mengerti makna dan implikasi. 

model komunikasi interaksional
Gambar 7. model komunikasi interaksional


I. Komunikasi Organisasional

     Goldhaber (1986), memberikan pengertian komunikasi organisasi yang artinya sebagai berikut, Komunikasi organisasi yaitu proses menciptakan dan saling menukar pesan dalam satu jaringan hubungan yang saling tergantung satu sama lain untuk mengatasi lingkungan yang tidak pasti atau yang selalu berubah-ubah. 
     Sama dengan pemaknaan organisasi, dalam memaknai akan pengertian komunikasi itu sendiri banyak para ahli yang mencoba memberikan pengertiannya dengan persepsi mereka masing-masing. Termasuk diantara yaitu persepsi Redding dan Sanborn, mereka mengatakan bahwa komunikasi organisasi adalah pengiriman dan penerimaan informasi dalam organisasi yang kompleks. 
     Sedangkan Katz dan Kahn mengatakan bahwa komunikasi organisasi merupakan arus informasi, pertukaran informasi dan pemindahan arti di dalam suatu organisasi. Komunikasi organisasi adalah pengiriman dan penerimaan berbagai pesan organisasi di dalam kelompok formal maupun informal dari suatu organisasi (Wiryanto, 2005). 
     Komunikasi formal adalah komunikasi yang disetujui oleh organisasi itu sendiri dan sifatnya berorientasi kepentingan organisasi. Isinya berupa cara kerja di dalam organisasi, produktivitas, dan berbagai pekerjaan yang harus dilakukan dalam organisasi. Misalnya: memo, kebijakan, pernyataan, jumpa pers, dan surat-surat resmi. Adapun komunikasi informal adalah komunikasi yang disetujui secara sosial. Orientasinya bukan pada organisasi, tetapi lebih kepada anggotanya secara individual.

J. Pilihan Penggunaan Media

     Dalam praktek komunikasi pembangunan, terutama fasilitator harus mampu mengidentifikasi dan sekaligus memilih saluran/media yang efektif. Pengertian efektif ini, dii satu pihak disukai penerima manfaatnya, dan di lain pihak dia harus mampu dan trampil menggunakan/mengoperasionalkan. Jika inovasi dapat dengan mudah dan jelas dapat disampaikan lewat media masa, atau sebaliknya jika kelompok penerima manfaatnya dapat dengan mudah menerima inovasi yang disampaikan melalui media masa, maka proses adopsi akan berlangsung relatif lebih cepat dibanding dengan inovasi yang harus disampaikan lewat media antar pribadi.
     Jika inovasi tersebut sulit disampaikan lewat media masa atau penerima manfaatnya belum mampu (dapat) memanfaatkan media masa, inovasi yang disampaikan lewat komunikasi antar pribadi akan lebih cepat dapat diadopsi oleh masyarakat penerima manfaatnya. Disamping pemanfaatan ragam saluran komunikasi, tahapan dan ragam pendekatan dalam komunikasi juga berpengaruh terhadap cepat atau lambatnya inovasi diterima masyarakat.
     Pilihan terhadap penggunaan saluran komunikasi banyak tergantung pada maksud dan tujuan komunikasi. Hasil penelitian membuktikan bahwa mass media akan berperan secara efektif dalam merubah pendapat (misalnya, menambah pengetahuan), sedangkan komunikasi antar pribadi umumnya lebih efektif dalam merubah sikap.
Pesan-pesan melalui media masa memang kurang kuat dalam merubah sikap, kecuali kalau pesan-pesan tersebut justru memperkuat nilai-nilai dan kepercayaan (belief) penerimanya, sedangkan pesan-pesan yang bertentangan akan disaring melalui tingkat selektivitas mereka.

K. Hambatan Komunikasi

     Dalam komunikasi yang menggunakan saluran media, gangguan terjadi dalam bentuk noise, baik karena mutu peralatan, ketepatan gelombang radio, dan gangguan cuaca. Sedang komunikasi yang menggunakan saluran antar pribadi gangguan yang terjadi seringkali disebabkan oleh karakteristik pribadi dari pihak-pihak yang berkomunikasi berupa: citra diri, nilai-nilai, kesenjangan sosial ekonomi, kesenjangan umur, jenis kelamin, agama serta etnis.

L. Memperbaiki Komunikasi

Ada beberapa cara untuk mengatasi hambatan komunikasi, antara lain:

  1. Gunakan umpan balik (feedback), setiap orang yang berbicara memperhatikan umpan balik yang diberikan lawan bicaranya baik bahasa verbal maupun non verbal, kemudian memberikan penafsiran terhadap umpan balik itu secara benar.
  2. Pahami perbedaan individu atau kompleksitas individu dengan baik. Setiap individu merupakan pribadi yang khas yang berbeda baik dari latar belakang psikologis, sosial, ekonomi, budaya dan pendidikan. Dengan memahami, seseorang dapat menggunakan taktik yang tepat dalam berkomunikasi.
  3. Gunakan komunikasi langsung (face to face), Komunikasi langsung dapat mengatasi hambatan komunikasi karena sifatnya lebih persuasif. Komunikator dapat memadukan bahasa verbal dan bahasa non verbal. Disamping kata-kata yang selektif dapat pula digunakan kontak mata, mimik wajah, bahasa tubuh lainnya dan juga meta-language (isyarat diluar bahasa) yang membuat komunikasi lebih berdaya guna.
  4. Gunakan bahasa yang sederhana dan mudah. Kosa kata yang digunakan hendaknya dapat dimengerti dan dipahami jangan menggunakan istilah-istilah yang sukar dimengerti pendengar. Gunakan pola kalimat sederhana (kanonik) karena kalimat yang mengandung banyak anak kalimat membuat pesan sulit dimengerti.


M. Pengertian Kepemimpinan

     Menurut Tead, Terry, Hoyt (Kartono, 2003) kepemimpinan yaitu kegiatan atau seni mempengaruhi orang lain agar mau bekerjasama yang didasarkan pada kemampuan orang tersebut untuk membimbing orang lain dalam mencapai tujuan-tujuan yang diinginkan kelompok.
     Menurut Young (Kartono, 2003), kepemimpinan yaitu bentuk dominasi yang didasari atas kemampuan pribadi yang sanggup mendorong atau mengajak orang lain untuk berbuat sesuatu yang berdasarkan penerimaan oleh kelompoknya, dan memiliki keahlian khusus yang tepat bagi situasi yang khusus.
     Moejiono (2002) memandang bahwa leadership tersebut sebenarnya sebagai akibat pengaruh satu arah, karena pemimpin mungkin memiliki kualitas-kualitas tertentu yang membedakan dirinya dengan pengikutnya. Para ahli teori sukarela (compliance induction theorist) cenderung memandang  sebagai pemaksaan atau pendesakan pengaruh secara tidak langsung dan sebagai sarana untuk membentuk kelompok sesuai dengan keinginan pemimpin (Moejiono, 2002).
     Kepemimpinan adalah pengaruh tambahan yang melebihi dan berada di atas kebutuhan mekanis dalam mengarahkan organisasi secara rutin (D. Katz & Khan, 1978, h.528).
     Atas dasar itu dapatlah kiranya disusun definisi kepemimpinan yang mudah dipahami, yaitu rangkaian kegiatan penataan berupa kemampuan mempengaruhi perilaku orang lain dalam situasi tertentu agar bersedia bekerjasama untuk mencapai tujuan yang telah ditetapkan.
     Kepemimpinan juga bisa di artikan Kemampuan untuk mempengaruhi suatu kelompok untuk pencapaian tujuan. Bentuk pengaruh tersebut dapat secara formal seperti manajerial pada suatu organisasi.
     ‘Nonsanctioned Leadership’ merupakan kemampuan untuk member pengaruh di luar struktur formal organisasi yang kepentingannya sama atau bahkan melebihi pengaruh struktur formal. Dengan kata lain, seorang pemimpin dapat saja muncul dalam suatu kelompok walaupun tidak diangkat secara formal.
     Dalam arti yang luas kepemimpinan dapat digunakan setiap orang dan tidak hanyaterbatas berlaku dalam suatu organisasi atau kantor tertentu. Kepemimpinan adalah kegiatan untuk mempengaruhi perilaku orang lain, atau seni mempengaruhi perilaku manusia baik perorangan maupun kelompok. Disini, menurut kami ,kepemimpinan tidak harus dibatasi oleh aturan-aturan atau tata karma birokrasi. Kepemimpinan tidak harus diikat dalam suatu organisasi tertentu. Melainkan kepemimpinan bisa terjadi di manasaja, asalkan seseorang menunjukkan kemampuannya mempengaruhi orang-orang lain ke arah tercapainya tujuan tertentu.

N. Teori  Kepemimpinan

     Memahami teori-teori kepemimpinan sangat besar artinya untuk mengkaji sejauh mana kepemimpinan dalam suatu organisasi telah dapat dilaksanakan secara efektif serta menunjang kepada produktifitas organisasi secara keseluruhan. Dalam makalah ini akan dibahas tentang teori kepemimpinan. Seorang pemimpin harus mengerti tentang teori kepemimpinan agar nantinya mempunyai referensi dalam menjalankan sebuah organisasi. Beberapa teori tentang kepemimpinan antara lain :

1. Teori Kepemimpinan Sifat ( Trait Theory )

     Analisis ilmiah tentang kepemimpinan berangkat dari pemusatan perhatian pemimpin itu sendiri. Teori sifat berkembang pertama kali di Yunani Kuno dan Romawi yang beranggapan bahwa pemimpin itu dilahirkan, bukan diciptakan yang kemudian teori ini dikenal dengan ”The Greatma Theory”. Dalam perkembanganya, teori ini mendapat pengaruh dari aliran perilaku pemikir psikologi yang berpandangan bahwa sifat – sifat kepemimpinan tidak seluruhnya dilahirkan akan tetapi juga dapat dicapai melalui pendidikan dan pengalaman. Sifat – sifat itu antara lain : sifat fisik, mental, dan kepribadian. Keith Devis merumuskan 4 sifat umum yang berpengaruh terhadap keberhasilan kepemimpinan organisasi, antara lain:
1. Kecerdasan
     Berdasarkan hasil penelitian, pemimpin yang mempunyai kecerdasan yang tinggi di atas kecerdasan rata – rata dari pengikutnya akan mempunyai kesempatan berhasil yang lebih tinggi pula. Karena pemimpin pada umumnya memiliki tingkat kecerdasan yang lebih tinggi dibandingkan dengan pengikutnya.
2. Kedewasaan dan Keluasan Hubungan Sosial
     Umumnya di dalam melakukan interaksi sosial dengan lingkungan internal maupun eksternal, seorang pemimpin yang berhasil mempunyai emosi yang matang dan stabil. Hal ini membuat pemimpin tidak mudah panik dan goyah dalam mempertahankan pendirian yang diyakini kebenarannya.
3. Motivasi Diri dan Dorongan Berprestasi
     Seorang pemimpin yang berhasil umumnya memiliki motivasi diri yang tinggi serta dorongan untuk berprestasi. Dorongan yang kuat ini kemudian tercermin pada kinerja yang optimal, efektif dan efisien.
4. Sikap Hubungan Kemanusiaan
     Adanya pengakuan terhadap harga diri dan kehormatan sehingga para pengikutnya mampu berpihak kepadanya.

2. Teori Kepemimpinan Perilaku dan Situasi

     Berdasarkan penelitian, perilaku seorang pemimpin yang mendasarkan teori ini memiliki kecenderungan kearah 2 hal.

  1. Pertama yang disebut dengan Konsiderasi yaitu kecendrungan seorang pemimpin yang menggambarkan hubungan akrab dengan bawahan. Contoh gejala yang ada dalam hal ini seperti : membela bawahan, memberi masukan kepada bawahan dan bersedia berkonsultasi dengan bawahan.
  2. Kedua disebut Struktur Inisiasi yaitu Kecendrungan seorang pemimpin yangmemberikan batasan kepada bawahan. Contoh yang dapat dilihat , bawahan mendapat instruksi dalam pelaksanaan tugas, kapan, bagaimana pekerjaan dilakukan, dan hasil yang akan dicapai.
     Jadi, berdasarkan teori ini, seorang pemimpin yang baik adalah bagaimana seorang pemimpin yang memiliki perhatian yang tinggi kepada bawahan dan terhadap hasil yang tinggi pula.

3. Teori Kontingensi (Contigensy Theory)

     Teori-teori kontingensi berasumsi bahwa berbagai pola perilaku pemimpin (atau ciri) dibutuhkan dalam berbagai situasi bagi efektivitas kepemimpinan. Teori Path-Goal tentang kepemimpinan meneliti bagaimana empat aspek perilaku pemimpin mempengaruhi kepuasan serta motivasi pengikut. Pada umumnya pemimpin memotivasi para pengikut dengan mempengaruhi persepsi mereka tentang konsekuensi yang mungkin dari berbagai upaya. Bila para pengikut percaya bahwa hasil-hasil dapat diperoleh dengan usaha yang serius dan bahwa usaha yang demikian akan berhasil, maka kemungkinan akan melakukan usaha tersebut. Aspek-aspek situasi seperti sifat tugas, lingkungan kerja dan karakteristik pengikut menentukan tingkat keberhasilan dari jenis perilaku kepemimpinan untuk memperbaiki kepuasan dan usaha para pengikut.
     Studi kepemimpinan jenis ini memfokuskan perhatiannya pada kecocokan antara karakteristik watak pribadi pemimpin, tingkah lakunya dan variabel-variabel situasional. Kalau model kepemimpinan situasional berasumsi bahwa situasi yang berbeda membutuhkan tipe kepemimpinan yang berbeda, maka model kepemimpinan kontingensi memfokuskan perhatian yang lebih luas, yakni pada aspek-aspek keterkaitan antara kondisi atau variabel situasional dengan watak atau tingkah laku dan kriteria kinerja pemimpin (Hoy and Miskel 1987). Model kepemimpinan Fiedler (1967) disebut sebagai model kontingensi karena model tersebut beranggapan bahwa kontribusi pemimpin terhadap efektifitas kinerja kelompok tergantung pada cara atau gaya kepemimpinan (leadership style) dan kesesuaian situasi (the favourableness of the situation) yang dihadapinya. Menurut Fiedler, ada tiga faktor utama yang mempengaruhi kesesuaian situasi dan ketiga faktor ini selanjutnya mempengaruhi keefektifan pemimpin. Ketiga faktor tersebut adalah hubungan antara pemimpin dan bawahan (leader-member relations), struktur tugas (the task structure) dan kekuatan posisi (position power).
     Hubungan antara pemimpin dan bawahan menjelaskan sampai sejauh mana pemimpin itu dipercaya dan disukai oleh bawahan, dan kemauan bawahan untuk mengikuti petunjuk pemimpin. Struktur tugas menjelaskan sampai sejauh mana tugas-tugas dalam organisasi didefinisikan secara jelas dan sampai sejauh mana definisi tugas-tugas tersebut dilengkapi dengan petunjuk yang rinci dan prosedur yang baku. Kekuatan posisi menjelaskan sampai sejauh mana kekuatan atau kekuasaan yang dimiliki oleh pemimpin karena posisinya diterapkan dalam organisasi untuk menanamkan rasa memiliki akan arti penting dan nilai dari tugas-tugas mereka masing-masing. Kekuatan posisi juga menjelaskan sampai sejauh mana pemimpin (misalnya) menggunakan otoritasnya dalam memberikan hukuman dan penghargaan, promosi dan penurunan pangkat (demotions).Model kontingensi yang lain, Path-Goal Theory, berpendapat bahwa efektifitas pemimpin ditentukan oleh interaksi antara tingkah laku pemimpin dengan karakteristik situasi (House 1971).
     Menurut House, tingkah laku pemimpin dapat dikelompokkan dalam 4 kelompok:
Supportive leadership (menunjukkan perhatian terhadap kesejahteraan bawahan dan menciptakan iklim kerja yang bersahabat), directive leadership (mengarahkan bawahan untuk bekerja sesuai dengan peraturan, prosedur dan petunjuk yang ada), participative leadership (konsultasi dengan bawahan dalam pengambilan keputusan) dan achievement-oriented leadership (menentukan tujuan organisasi yang menantang dan menekankan perlunya kinerja yang memuaskan). Menurut Path-Goal Theory, dua variabel situasi yang sangat menentukan efektifitas pemimpin adalah karakteristik pribadi para bawahan/karyawan dan lingkungan internal organisasi seperti misalnya peraturan dan prosedur yang ada. 

     Walaupun model kepemimpinan kontingensi dianggap lebih sempurna dibandingkan modelmodel sebelumnya dalam memahami aspek kepemimpinan dalam organisasi, namun demikian model ini belum dapat menghasilkan klarifikasi yang jelas tentang kombinasi yang paling efektif antara karakteristik pribadi, tingkah laku pemimpin dan variabel situasional.

4. Teori sedang tumbuh

a. Teori Kewibawaan Pemimpin
     Kewibawaan merupakan faktor penting dalam kehidupan kepemimpinan, sebab dengan faktor itu seorang pemimpin akan dapat mempengaruhi perilaku orang lain baik secara perorangan maupun kelompok sehingga orang tersebut bersedia untuk melakukan apa yang dikehendaki oleh pemimpin.
b. Teori Kepemimpinan Situasi
     Seorang pemimpin harus merupakan seorang pendiagnosa yang baik dan harus bersifat fleksibel, sesuai dengan perkembangan dan tingkat kedewasaan bawahan.
c. Teori Kelompok
     Agar tujuan kelompok (organisasi) dapat tercapai, harus ada pertukaran yang positif antara pemimpin dengan pengikutnya.

O. Issu dalam kepemimpinan

1. Kurangnya Koordinasi

a. Koordinasi dalam Program kerja
     Seringkali dalam sebuah organisasi yang sudah mapan sekali pun, atau dapat dikatakan ketika dalam organisasi terdapat sebuah program kerja yang sangat bagus sekali pun, jika tidak ada koordinasi maka sering kali menyebabkan kesalahpahaman, yang tentunya dapat menyebabkan kacaunya terlaksanya sebuah program
b. Koordinasi antar Pimpinan
     Parahnya lagi, koordinasi yang buruk dapat mengarah pada komunikasi yang buruk pula. Komunikasi yang buruk antar pimpinan tersebut dalam sebuah program dapat berakibat pada program-program selanjutnya. Maka seringkali terjadi salah sangka dan salah paham diantaranya. Padahal para pimpinan selain berhubungan dalam pelaksanaan program kerja seharusnya memiliki ikatan cultural, ketika terjalin komunikasi yang baik diantaranya.

2. Pengkaderan

     Menurut Kamus Besar Bahasa Indonesia, istilah “kader” berarti : (1) perwira atau bintara dl ketentaraan; (2) orang yg diharapkan akan memegang peran yg penting di pemerintahan, partai, dsb. Jika dalam hal ini kita ambil definisi kedua, maka, istilah “pengkaderan” bisa diartikan sebagai : sebuah proses yang menghasilkan orang yg diharapkan akan memegang peran yg penting di pemerintahan, partai, dsb.
a. Rekrutmen
     Bagi sebagian periode organisasi, dan bagi berbagai macam organisasi masalah pengkaderan ini dirasakan berbeda-beda, oleh karena tingkat animo peminat organisasi yang berbeda beda misalnya. ( Animo artinya hasrat dan keinginan yg kuat untuk berbuat, melakukan, atau mengikuti sesuatu). Namun pernyataan “kesuksesan suatu periode adalah bukan sekedar sukses ketika masa jabatanya namun ketika dapat menghasilkan (kader-kader) periode yang lebih sukses”.
Maka dapat dikatakan dalam sebuah organisasi adalah ketika dalam suatu periode dapat dikatakan sebagai masa kejayaan, namun hal tersebut tidak ada artinya ketika setelah itu organisasi tersebut terpuruk atau bahkan bubar karena kelemahan tau bahkan tidak adanya kader penerus.
b. Mempertahankan kader
     Pengkaderan ini, terkait erat pada pengembangan organisasi. Ketika suatu organisasi dapat merekrut kader dalam animo besar, memungkinkan jangkauan organisasi tersebut pada komunitas yang luas, serta hal tersebut merupakan sumber daya yang tidak bisa diremehkan. Setelah berhasil merekrut kader dalam animo yang besar, jika tidak dapat memberdayakan, dalam rangka mempertahankan kader-kadernya maka seringkali kader-kader tersebut akan maengalami seleksi alam. Oleh karena itu usaha mempertahankan kader sering kali lebih penting daripada rekrutmennya.

3. Praktik – praktik Organisasi

  1. Rasa hormat, martabat, dan kebebasan perorangan. Masalah ini berhubungan dengan cara organisasi memperlakukan anggotanya. Dari sudut pandang sebagian besar anggota oraganisasi, kepentingan organisasi didahulukan dan kepentingan anggota dijadikan yang paling akhir.
  2. Kebijakan dan praktik personel. Masalah ini berkenaan dengan etika kepegawaian, pemberian gaji, kenaikan pangkat, pendisiplinan,  dan masalah pensiun anggota organisasi. Kewajiban umum organisasi adalah berlaku adil pada anggota organisasi yang prospektif disetiap jenjang karirnya.

P. Efektivitas Kepemimpinan

1. Pengertian Efektivitas

     Berdasarkan Ensiklopedi Umum Administrasi, efektivitas berasal dari kata kerja efektif, berarti terjadinya suatu akibat atau efek yang dikehendaki dalam perbuatan. Dalam Kamus Besar Bahasa Indonesia dikemukakan bahwa efektif berarti ada efeknya (akibatnya, pengaruhnya, kesannya), manjur atau mujarab, dapat membawa hasil. Jadi, efektivitas adalah bagaimana suatu organisasi berhasil mendapatkan sumber daya dalam usaha mewujudkan tujuan operasional.
     Kata efektivitas sering diikuti dengan kata efisiensi, dimana kedua kata tersebut sangat berhubungan dengan produktivitas dari suatu tindakan atau hasil yang diinginkan. Produktivitas merupakan perbandingan antara hasil kerja berupa barang atau jasa dengan sumber-sumber bahan/tenaga yang terpakai dalam peoses produksi itu. Kata produktif pada umumnya diartikan sebagai kemampuan pada seseorang atau alat untuk menghasilkan sesuatu hasil kerja yang lebih banyak dari pada ukuran biasa yang telah umum, misalnya pengarang yang produktif.
     Suatu yang efektif belum tentu efisien, demikian juga sebaliknya suatu yang efisien belum tentu efektif. Dengan demikian istilah efektif adalah melakukan pekerjaan yang benar dan sesuai serta dengan cara yang tepat untuk mencapai suatu tujuan yang telah direncanakan. Sedangkan efisien adalah hasil dari usaha yang telah dicapai lebih besar dari usaha yang dilakukan.
     Dari pengertian diatas, efektivitas dapat dikatakan sebagai keberhasilan pencapaian tujuan organisasi dari 2 (dua) sudut pandang. Sudut pandang pertama, dari segi hasil maka tujuan atau akibat yang dikehendaki telah tercapai. Kedua dari segi usaha yang telah ditempuh atau dilaksanakan telah tercapai, sesuai dengan yang ditentukan. Dengan demikian pengertian efektivitas dapat dikatakan sebagai taraf tercapainya suatu tujuan tertentu, baik ditinjau dari segi hasil, maupun segi usaha yang diukur dengan mutu, jumlah serta ketepatan waktu sesuai dengan prosedur dan ukuran–ukuran tertentu sebagaimana yang telah digariskan dalam peraturan yang telah ditetapkan.

2. Faktor-faktor Yang Mempengaruhi Efektivitas Pemimpin Dalam Kepemimpinan

     Menurut H. Jodeph Reitz faktor-faktor yang mempengaruhi efektivitas pemimpin dalam kepemimpinan meliputi:
  1. Kepribadian, pengalaman masa lalu dan harapan pimpinan, hal ini mencakup nilai-nilai, latar belakang dan pengalamannya akan mempengaruhi pilihan akan gaya. Sebagai contoh, jika ia pernah sukses dengan cara menghargai bawahan dalam pemenuhan kebutuhannya, cenderung akan menerapkan gaya kepemimpina yang berorientasi kepada bawahan/orang.
  2. Pengharapan dan perilaku atasan, sebagai contoh atasan yang secara jelas memakai gaya yang berorientasi pada tugas, cenderung manajer menggunakan gaya itu.
  3. Karakteristik, harapan dan perilaku bawahan, mempengaruhi terhadap gaya kepemimpinan manajer. Sebagai contoh, karyawan yang mempunyai kemampuan tinggi biasanya akan kurang memerlukan pendekatan yang direktif dari pimpinan.
  4. Kebutuhan tugas, setiap tugas bawahan juga mempengaruhi gaya pemimpin, sebagai contoh bawahan yang bekerja pada bagian pengolahan data (litbang) menyukai pengarahan yang lebih berorientasi pada tugas.
  5. Iklim dan kebijakan organisasi mempengaruhi harapan dan perilaku bawahan. Sebagai contoh kebijakan dalam pemberian penghargaan, imbalan, dengan skala gaji yang ditunjang dengan insentif lain (dana pensiun, bonus, cuti) akan mempengaruhi motivasi kerja bawahan.
  6. Harapan dan perilaku rekan, sebagai contoh manajer membentuk persahabatan dengan rekan-rekan dalam organisasi. Sikap mereka ada yang merusak reputasi, tidak mau kooperatif, berlomba memperebutkan sumber daya, sehingga mempengaruhi perilaku rekannya. 
     Berdasarkan faktor-faktor tersebut, maka jelaslah bahwa kesuksesan pemimpin dalam aktivitasnya dipengaruhi oleh faktor-faktor yang dapat menunjang untuk berhasilnya suatu kepemimpinan, oleh sebab itu suatu tujuan akan tercapai apabila terjadinya keharmonisan dalam hubungan atau interaksi yang baik antara atasan dan bawahan, di samping dipengaruhi oleh latar belakang yang dimiliki pemimpin, seperti motivasi untuk berprestasi, kedewasaan dan keleluasaan dalam hubungan sosial dengan sikap hubungan manusiawi
BAB III
PENUTUP
A. Kesimpulan
     Kepemimpinan dapat diartikan sebagai kemampuan untuk mengarahkan pengikut-pengikutnya untuk bekerja sama dengan kepercayaan serta tekun mengerjakan tugas-tugas yang diberikan oleh pimpinan mereka. Kepemimpinan dapat juga di artikan sebagai  kemampuan seseorang mempengaruhi dan memotivasi orang lain untuk melakukan sesuatu sesuai tujuan bersama. Dalam kehidupan sehari – hari, baik di lingkungan keluarga, organisasi, perusahaan sampai dengan pemerintahan sering kita dengar sebutan pemimpin, kepemimpinan serta kekuasaan. Ketiga kata tersebut memang memiliki hubungan yang berkaitan satu dengan lainnya.
Pemimpin berarti orang yang melaksanakan kepemimpinan tersebut.
B. Saran
     Seorang pemimpin harus mengerti tentang teori kepemimpinan agar nantinya mempunyai referensi dalam menjalankan sebuah organisasi.Gaya Kepemimpinan yang diterapkan tentu berbeda-beda seperti gaya yang otoriter,demokratis dan lain-lain.
Pemimpin bukan sekedar gelar atau jabatan yang diberikan dari luar melainkan sesuatu yang tumbuh dan berkembang dari dalam diri seseorang.
DAFTAR PUSTAKA
Adji,Wahyu dkk.Ekonomi untuk SMA/Ma kelas XII(hal.116-117).Jakarta.Penerbit Erlangga.2007
Mulyasa, E., Manajemen Berbasis sekolah, Bandung: PT. Remaja Rosdakarya, 2004. 
Margono, Educational Leadership, Malang: UIN Malang Press, 2009.
Rohmat, Kepemimpinan Pendidikan Strategi Menuju Sekolah Efektif, Yogyakarta:  Cahaya Ilmu, 2010.
Nanang Fattah, Landasan Manajemen Pendidikan, Bandung: Remaja Rosdakarya, 2004.
Margono, Educational Leadership, Malang: UIN Malang Press, 2009
Read More: Pendekatan Scientific Pada Proses pembelajaran K13